Tuntunan Islam untuk Keluarga Jenazah


Di lingkungan Nahdliyin ketika seseorang meninggal biasanya para ahli warisnya sering mengadakan berbagai ritual. Mulai dari talqin sampai membaca quran untuk mayit. Orang yang tidak sepaham dengan NU menganggap amalan ini adalah bid’ah, padahal ini semua adalah sunah nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam. Amaliah tersebut adalah: talqin mayit setelah dikubur, membaca yasin bagi mayit, memberikan makan bagi yang ta’ziah, mengirimkan pahala bacaan quran, ziarah kubur dan tawasul.

1. Talqin mayit

لقنوا موتاكم لااله إلا الله (رواه مسلم)

“Talqinkanlah orang yang mati kalian (dengan) la ilaha illallah”. (HR Muslim)

Menurut Al-Muhib Ath-Thabari, Ibn Al-Himmam, Asy-Syaukani dan yang lainnya lafdz “موتاكم” dikhususkan bagi yang telah mati, dan digunakan untuk yang sakratul maut dalam bentuk majaz dengan syarat harus ada qorinahnya. Dan pada hadits ini tidak ada qorinah untuk majaznya. Maka talqin mayit pada hadits ini ditujukan untuk orang yang telah meninggal.

أخرج الحافظ سعيد بن منصور حديثا: (إذا سوي على الميت قبره وانصرف الناس عنه كانوا (أي الصحابة) يستحبون أن يقال للميت عند قبره: يا فلان قل لا اله إلا الله, أشهد أن لا اله إلا الله ثلاث مرات يا فلان قل ربي الله وديني الإسلام ونبيي محمد صلى الله عليه وسلم ثم ينصرف).

Al-Hafizh Sa’id ibn Mansur mengeluarkan hadits:

“Apabila kalian sudah memasukan mayit ke dalam kuburnya dan orang telah pergi dari situ, terbukti bahwa para Sahabat mensunatkan untuk mengatakan kepada mayit pada kuburnya: wahai Fulan ucapkanlah la ilaha illallah dan bersaksilah bahwa tiada Tuhan selain Allah tiga kali, wahai Fulan ucapkanlah Tuhanku Allah agamaku Islam Nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu para Sahabat meninggalkan kuburan tersebut.”

Asy-Syaukani mengatakan bahwa Al-Hafizh Ibn Hajar menyebutkan hadits ini di dalam kitab Talkhis dan tidak menomentarinya. (Talkhis al-Habir halaman 243 juz 5 dari Majmu An-Nawawi).

2. Membaca yasin

عن معقل بن يسار رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (يس قلب القران لا يقرؤها رجل يريد الله والدار الآخرة إلا غفر الله له, اقرؤوها على موتاكم). (رواه أحمد)

“Dari Ma’qil bin Yasar berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Bacakanlah yasin bagi yang telah meninggal diantara kalian)”. (HR Ahmad)

Yang dimaksud dengan “موتاكم” yaitu mayit dalam arti sebenarnya, bukan orang yang sekarat. Asy-Syaukani dan Al-Muhib Ath-Thabari berpendapat bahwa lafadz “موتاكم” pada hadits bermakna yang telah meninggal dan bukan majaz yang bermakna sekarat, karena tidak adanya qorinah yang menunjukan pada makna sekarat. (Nailul Awthar 3/25).

3. Memberi makan yang bertaziah

عن طاووس قال: (إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا ويستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام).

“Dari Thawus berkata: (Sesungguhnya yang meninggal akan dicoba (diuji) di dalam kuburnya selama tujuh hari, maka disunahkan untuk memberi makan (diniatkan shadaqah) dari para mayit pada hari-hari tersebut)”.

Al-Hafizh Ibn Hajar menyebutkan hadits ini di dalam kitab Al-Mathalib Al-‘Aliyah (1/199) dan berkata isnadnya kuat.

4. Mengirimkan pahala bacaan

Hadits tentang membaca yasin adalah dalil bahwa pahala bacaan sampai kepada mayit.

عن عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه قال لي أبي اللجلاج: (يا بني إذا مت فالحد لي لحدا, فإن وضعتني في لحدي فقل: بسم الله وعلى ملة رسول الله ثم سن التراب علي سنا, ثم اقرأ عند رأسي بفاتحة البقرة وخاتمتها, فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ذلك).

“Dari Abdurrahman bin Al-’Ala bin Al-Lajlaj dari ayahnya berkata: berkata padaku ayahku Al-Lajlaj: (Wahai anakku apabila aku mati maka buatkanlah untuku liang lahat, maka apabila kalian memasukan ke dalam liang lahatku maka bacalah bismillah wa ‘ala millati rasulillah lalu taburkanlah tanah kepadaku satu taburan, lalu bacakanlah dekat kepalaku awal Al-Baqarah dan akhir Al-Baqarah. Karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara demikian)”.

Hadits ini dikemukakan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (13613) dan oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid (4242) dan Rijalul Haditsnya terpercaya semua.

عن الإمام الأحمد قال: حدثنا ابن المغيرة حدثنا الصفوان قال: كانت المشيخة يقولون: إذا قرئت أي يس عند الميت خفف عنه بها.

“Dari Imam Ahmad berkata: Berbicar kepada kami Ibn Al-Mughirah, berbicara kepada kami Ash-Shafwan berkata: Terbukti bahwa para Masyaikhah (Ulama-ulama) berkata: Apabila Yasin dibacakan kepada mayit maka akan diringankan kepada mayit oleh karena surat Yasin”. (Tafsir Ibn Katsir 3/563, At-Talkhis 2/104).

قال الشافعي رحمه الله: ويستحب أن يقرأ عنده شيء من القران وإن ختموا القران عنده كان حسنا.

“Imam Syafi’i Rahimahullah berkata: dan disunatkan untuk membacakan kepada mayit sebagian dari Al-Quran dan apabila menamatkan Al-Quran kepada mayit maka itu lebih baik”. (Al-Majmu An-Nawawi 5/294, Riyadlush Shalihin 947).

5. Ziarah Kubur

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها).

“Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Dulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekerang berziarahlah kepada kubur). (HR Muslilm, An-Nasai, Hakim)

6. Tawasul

قال تعالى: ]يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة[(المائدة: 35).

“Allah Ta’ala bersabda: (Wahai orang-orang yang beriman bertqwalah kepada Allah dan mengharaplah kepada-Nya (dengan) wasilah (perantara))”. (QS Al-Maidah: 35).

عن عثمان بن حنيف رضي الله عنهك أن رجلا ضريرا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: ادع الله لي أن يعافني, فقال: (إن شئت صبرت وهو خير لك), قال: فادعه وفي رواية: ليس لي قائد وقد شق علي. فأمره أن يتوضأ فيحسن وضوءه ويدعو بهذا الدعاء: (اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد صلى الله عليه وسلم نبي الرحمة, يا محمد إني توجهت بك إلى ربي في قضاء حاجاتي لتقضى لي اللهم شفعه في). وزاد البيهقي: فقام وقد أبصر. وفي رواية: (اللهم شفعه في وشفعني في نفسي). (رواه أحمد)

“Dari Utsman bin Hanif RA: Suatu ketika datanglah seorang yang buta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: berdoalah kepada Allah untuku agar menyembuhkanku. Nabi bersabda: (Jikalau kamu mau bersabar maka itu lebih baik). Orang tersebut menjawab: Doakanlah! Diriwayat yang lain: Aku tidak mempunyai lagi kekuatan dan sudah sangat memberatkanku. Lalu Nabi menyuruhnya untuk berwudlu dan memperbagus wudlunya dan berdoa dengan doa ini: (Ya Allah sesungguhnya aku meminta dan menghadap kepada-Mu dengan (bertawasul) melalui nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang memberitakan kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu menuju Tuhanku dalam mengabulkan keinginanku (dan) untuk mengabulkan kepadaku. Ya Allah syafa’atilah dia didiriku”. Dalam riwayat Al-Baihaqi: maka dia langsung berdiri dan bisa melihat lagi. Dan diriwayat lain: “Ya Allah syafa’atilah dia didiriku syafa’atilah aku di dalam diriku”. (HR Ahmad)

Oleh :

Agus Z.A.

http://blog.its.ac.id/aguszacsitsacid/2009/09/10/tuntunan-islam-untuk-keluarga-jenazah/

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: