TENTANG IPNU


A. Tinjauan Sosiologi
Ikatan Pelajara Nahdlatul ‘Ulama yang disingkat IPNU merupakan wadah berhimpun, wadah komunikasi, wadah aktualisasi dan wadah kaderisasi bagi generasi muda Nahdlatul Ulama. Dengan demikian semangat perjuanggya senantiasa dijiwai dan dilandasi semangat nahdliyin. Sebagai organisasu yang bernaung di bawah panji Nhdlatul Ulama, maka IPNU senantiasa berorientasi pada wawasan keterpelajaran. Hal ini diupayakan dalam usaha penggalian dan pembinaan sumber daya anggota yang senantiasa mengamalkan kerja nyata demi tegaknya islam ahlussunah wal jama’ah dalam kehidupan masyarakat yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Agar peran yang diharapkan oleh masyarakat dapat terpenuhi, terlebih dahulu haruslah dimengerti kedudukan dan posisi IPNU dijajaran organisasi sejenis lainnya, yaitu organisasi social yang bersifat keagamaan.

B. Strategi berdirinya IPNU
IPNU lahir pada tanggal 20 Jumadil Akhir 1373 H/24 Februari 1954 M. Tujuan didirikan IPNU adalah untuk tegak dan berkembangnya ajaran islam, kesempurnaan pendidikan dan pengajaran serta ukhuwah pelajar ahlussunah wal jamaah. Ide dasar dibentuknya organisasi adalah untuk menyerap segmen pelajar, santri dan mahasiswa yang memang dalam NU pada saat itu segmen ini belum tersentuh.
Keinginan untuk membentuk organisasi ini sebenarnya telah tumbuh sebelum Indonesia merdeka. Di Surabaya misalnya Tsamrotul Mustaliqin (1936). Persatuan Santri NO (PERSANO) tahun 1939. Di Malang yaitu Persatuan Anak Moerid NO (PAMNO) tahun 1941 dan Ikatan Moerid NO (IMNO) tahun 1945. Di Kediri Persatuan Pelajar NO tahun 1953. IPENO di Medan dan lain-lain.
Lahirnya perkumpulan-perkumpulan pelajar pada masa revolusi merupakan bukti adanya semangat berorganisasi dan berjuang dikalangan generasi muda, walaupun antar kumpulan-kumpulan pelajar tersebut tidak saling kenal, tetapi antar organisasi tersebut memiliki kesamaan yaitu nilai-nilai kepelajaran dan faham ASWAJA.
Titik kesamaan itulah yang kemudian memberikan inspirasi untuk menyatu dan mengorganisir dalam satu ikatan yang kokoh dalam wadah nasional. Dan atas usaha dari Tohal Mansyur dalam forum Kongres Ma’arif NU di Semarang (24 Februari 1954) di sepakati berdirinya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan momen inilah yang kita peringati sebagai lahirnya IPNU.

C. Perjalanan IPNU dari Kongres ke Kongres
Kongres merupakan Forum permusyawaran tertinggi di IPNU tingkat Nasional untuk menilai pertanggung jawaban, penetapan program umum nasional menyempurnakan AD/ART, merumuskan kebijakan organisasi dan menetapkan keputusan-keputusan lain yang dibutuhkan.
è IPNU Pasca Kongres Jombang
Pada pemerintahan Orde Baru melalui UU no 8 tahun 1985 melakukan kebijakan Depolitasi Pelajar kebijakan yang mengatur organisasi kemasyarakatan. Diantaranya satu-satunya organisasi pelajar adalah OSIS. Dengan adanya kebijakan tersebut semua organisasi pelakar termasuk IPNU melenur menjadi OSIS. Akhirnya pada kongres tersebut menetapkan perubahan akronim dari Pelajar ke Putra sebagai perwujudan untuk mempertahankan eksistensi IPNU agar tetap eksis dalam dampak refresif orde baru.
Setelah Konres Jombang hingga Kongres Garut 1996 adalah masa transisi yang berkepanjangan. Satu missal adalah titik pernah sampainya pemahaman yang sama tentang orientasi bidang garap IPNU. Pada masa itulah terjadi tarik menarik antara kepentingan politik praktis (politik IPNU) dengan prioritas program. Hal ini berdampak pada proses pengkaderan yang pelan-pelan semakin hilang dari pesantren/sekolah maarif NU.
è Rekomendasi Dekalarasi Makasar 2000
Perkembangan IPNU selama 12 tahun terakhir perlu kita cermati walaupun pada pemuda (remaja) berhasil digarap, akan tetapi para pelajar dan santri sebagai elemen IPNU yang lain agak kurang tersentuh.
Pada Kongres XIII IPNU di Makasar mengamanatkan visi keterpelajaran yang tertuang dalam deklarasi Makassar. Deklarasi itulah yang di implementasikan dalam pendirian di Komisariat di lembaga-lembaga pendidikan dan pondok pesantren.
è Kongres XIV 2003 IPNU kembali Khittah
Deklarasi Makassar 2000 sebagai tonggak awal pengembalian IPNU. Pada Kongres XIV di Suarabaya memunculkan kesadaran bersama untuk merubah nama dari Putra kembali ke Pelajar dan misi kepelajaran sekaligus orientasi pengkaderan IPNU khusunya di pesantren dan sekolah-sekolah. Artinya Kongres telah mengembalikan IPNU pada garis perjuangan yang semestinya. Secara popular hal tersebut dikenal dengan nama khittah 1954.

D. Prospek dan Kiprah IPNU Pasca Kongres Surabaya
Perkembangan IPNU selama diakui atau tidak telah berhasil membawa IPNU sebagai organisasi kader dilingkungan NU dan disegani dalam peraturan organisasi kepemudaan. Tapi satu hal yang patut disayangkan, walaupun para pemuda (remaja) berhasil digarap, akan tetapi para pelajar, santri dan mahasiswa sebagai elemen IPNU lainnya agak kurang tersentuh oleh penggerak IPNU. Untuk itu pasca Kongres IPNU XIV di Surabaya dengan kembalinya IPNU ke Khittah 1954. IPNU harus bias menyikapi dengan perubahan tersebut. Dengan matangnya posisi IPNU, diharapkan akan membawa prospek yang semakin cerah dengan kata lain melalui IPNU para kader muda Nahdliyin dapat ikut mengisi derap langkah bangsa Indonesia dalam membangun Negara.

TentangIPNU : Waidin

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: