Archive for the ‘ A. PC. IPNU Kota Bandung ’ Category

PEDOMAN LAKMUD (sesi 4)

15. Teknik Diskusi dan Persidangan

a.   Pokok bahasan :

2.    Pengertian, tujuan dan  macam-macam diskusi dan persidangan

3.    Etika diskusi dan persidangan

4.    Perangkat dan teknik diskusi dan persidangan

5.    Teknik menciptakan diskusi dan persidangan yang produktif

b.               Tujuan :

1.   Memahami pengertian, tujuan, macam serta etika diskusi.

2.   memahami perangkat dan teknik persidangan

3.   Memahami bagaimana menciptakan diskusi yang produktif

Metode :

Brainstorming

Diskusi

Role Playing

Praktek diskusi dan sidang

Media :

Kertas plano

Spidol

Waktu :

Alokasi waktu 90 menit

f.    Proses kegiatan :

1. Pelatih membuka acara dan menerangkan secara singkat tentang pokok bahasan materi yang dilanjutkan dengan memperkenalkan nara sumber kepada peserta.

2. Pelatih mengadakan brainstorming dengan cara menyampaikan beberapa pertanyaan yang terkait dengan pokok bahasan, hal ini ditujukan untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta pada materi tersebut sebelum pemateri menyampaikan materinya secara utuh. selanjutnya mempersilahkan kepada nara sumber untuk menyampaikan materi, dilanjutkan dengan dialog.

3. Pelatih mengulas garis besar hasil dialog dan mengarahkan kepada kesimpulan

4. Selanjutnya untuk memperdalam materi, pelatih mengajak peserta untuk melakukan suatu diskusi kelompok dengan membahas beberapa issue yang disedikan oleh pelatih.

5. Selama dalam proses diskusi, pelatih memantau dan menilai mulai dari bentuk diskusi, penataan model, jalannya diskusi, partisipasi anggota diskusi dan peranan ketua kelompok diskusi dalam mengendalikan situasi diskusi.

6.    Setelah selesai, Pelatih memberikan ulasan tentang kelebihan dan kekurangan dari masing-masing prosesi diskusi yang telah dipraktekkan oleh masing-masing kelompok.

7.    Selanjutnya pelatih memberikan saran-saran dan diakhiri dengan menutup acara.

16. Pengantar Studi Gender

b.    Pokok Bahasan :

1.    Pengertian dan tujuan studi gender

2.    Perbedaan sex, gender dan feminisme

3.    Pengertian sex role, gender role, gender stereotype

4.    Bentuk-bentuk ketidakadilan gender

c.    Tujuan :

1.    Mengerti dan memahami gender, sex dan feminisme

2.    Mengetahui aliran-aliran feminisme

d.     Metode :

1.    Brainstorming

2.    Diskusi

3.    Ceramah dan dialog

e.    Media :

1.    OHP

2.    Kertas plano dan spidol

f.     Waktu :

Alokasi waktu 60 menit efektif

g.     Proses kegiatan :

1. Pelatih membuka acara kemudian memberikan  penjelasan singkat tentang pokok bahasan materi studi gender.

2. Pelatih membacakan biodata narasumber,  selanjutnya mempersilahkan narasumber menyampaikan materi.

3. Pelatih memandu dialog atau curah pendapat.

4. Pelatih menyimpulkan materi studi gender dan hasil dialog, kemudian mempersilahka nara sumber meningalkan ruangan.

5. Pelatih memandu diskusi tentang pendalaman materi, sebelum itu Pelatih membagi peserta dalam 4 kelompok.

6.    Pelatih memandu merumuskan hasil diskusi kelompok dengan metode curah pendapat yang ditulis pada papan plano.

7. Pelatih menutup acara

17. Studi Problematika Pendidikan di Indonesia

h. Pokok bahasan :

1. Komponen-komponen pendidikan (peserta didik, pendidik,materi, metode, tujuan)

2. Sistem pendidikan nasional

3. Problematik pendidikan di Indonesia

i. Tujuan :

1. Memahami komponen-komponen pendidikan

2. Memahami system pendidikan nasional

j. Metode :

1. Brainstorming

2. Ceramah dan dialog

k. Media :

1. OHP

2. Kertas plano dan spidol

l. Waktu :

Alokasi waktu 60 menit efektif

m. Proses kegiatan :

1. Pelatih membuka acara dan menerangkan secara singkat tentang pokok bahasan materi yang dilanjutkan dengan memperkenalkan nara sumber kepada peserta.

2. Pelatih mengadakan brainstorming dengan cara menyampaikan beberapa pertanyaan yang terkait dengan pokok bahasan, hal ini ditujukan untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta pada materi tersebut sebelum pemateri menyampaikan materinya secara utuh. selanjutnya mempersilahkan kepada nara sumber untuk menyampaikan materi, dilanjutkan dengan dialog.

3. Selesai dialog, pelatih mengulas secara garis besar hasil dialog dan mengarahkan pada kesimpulan.

4. Pelatih memberikan saran-saran dan dilanjutkan dengan menutup acara.

18. Evaluasi

a.   Pokok bahasan

5.         Review dan evaluasi akhir penyelenggaraan latihan

6.         Post test

b.    Tujuan

1.   Mampu mengorganisir dan mengungkapkan kembali pengalaman latihan peserta sejak awal sampai akhir pelatihan, sehingga mengetahui kelebihan dan kekurangan selama latihan berlangsung.

2.   Mampu memberikan umpan balik dan kritikan terhadap proses pelaksanaan latihan ini serta saran-saran mereka untuk perbaikan pelaksanaan latihan di masa yang akan datang

c.   Metode

1.    Angket

2.    Kuesioner

d.              Media

1.    Papan tulis white board dan spidolnya

2.    Kertas plano dan spidolnya

3.    Formulir isian evaluasi dan soal-soal post test

e.   Waktu

90 menit efektif

f.    Proses kegiatan

1.    Pelatih membuka acara, kemudian memberikan penjelasan singkat tentang evaluasi pelatihan dan tujuannya.

2.    Pelatih membagi peserta ke dalam beberapa kelompok diskusi, kemudian masing-masing kelompok merumuskan beberapa kekurangan dan kelebihan dari masing-masing sessi yang berkaitan dengan prosesi pelatihan, misalnya infrastruktur pelatihan, materi, pelatih, metoda, nara sumber, peserta, suasana, sistem kelekatan dll.

3.    Hasil diskusi di tuangkan dalam kertas plano kemudian dipresentasikan oleh masing-masing kelompok.

4.    Pelatih memandu untuk mengidentifikasi masing-masing permasalahan, sehingga menjadi entry point bagi peserta di dalam menyelenggarakan pelatihan berikutnya.

5.    Selanjutnya pelatih menyimpulkan secara garis besar hasil diskusi.

6.    Untuk melihat daya serap materi pelatihan selama proses pelatihan, maka pelatih memberikan post test kepada peserta.

7.    Diakhiri dengan penutupan acara.

19. Rencana Tindak Lanjut

a.   Pokok bahasan

1.  Rencana tindak lanjut latihan

2.    Rumusan strategi tindak lanjut untuk pengembangan kemampuan peserta

b.   Tujuan

1.   Menyadari pentingnya suatu tindak lanjut latihan sebagai bentuk perwujudan dari pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang diperolehnya selama latihan

2.   Mampu menyusun suatu rencana tindak lanjut tentatif yang dapat dan mungkin dilaksanakannya pasca latihan pelatih

c.   Metode

1.   Angket

2.   Diskusi

d.   Media

1.   Papan tulis white board dan spidolnya

2.   Kertas plano dan spidolnya

3.   Lembar rancangan kegiatan pasca latihan

e.    Waktu

120 menit efektif

f.    Proses kegiatan

1.    Pelatih membuka acara, kemudian memberikan penjelasan singkat tentang rencana tindak lanjut sebagai bentuk peningkatan pengalaman bagi pelatih yang akan terjun memandu latihan di wilayahnya

2.    Agar hasil rencana tindak lanjut tepat sasaran, maka sebaiknya rencana tindak lanjut di buat forum segitiga yakni peserta, pelatih, dan pimpinan struktural yang bersangkutan.

3.    Selanjutnya forum diserahkan kepada pimpinan struktural yang bersangkutan untuk bersama-sama melakukan rancangan kegiatan lanjutan bagi peserta latihan.

4.    Hasil pembahasan tersebut kemudian dituangkan dalam plano dan menjadi ketetapan kegiatan yang harus dilaksanakan

5.    Pelatih memberikan penegasan secara garis besar atas hasil perumusan rencana tindak lanjut, kemudian diakhiri dengan penutupan acara oleh pelatih.

————————————————————————————————————————————————————–

Demikian Rangkaian Materi LATIHAN KADER MUDA (LAKMUD) Semoga Bermanfaat..

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Kembali !! PEDOMAN LAKMUD (sesi 3)

Kembali !! PEDOMAN LAKMUD (sesi 1)

Iklan

PEDOMAN LAKMUD (sesi 3)

9. Manajemen Konflik

a. Pokok bahasan

1. Pengertian manajemen konflik

2. Macam/model- model konflik

3. Tahap-tahap penyelesaian konflik

b.    Tujuan  :

Mengerti dan memahami pengertian konflik, manajemen konflik dan bagaimana  menyelesaikannya.

c.     Metode :

2. Brainstorming

3. Study kasus

4. Ceramah

d.             Media :

1. OHP

2. Kertas plano dan spidol

a. Waktu

Alokasi waktu 90 menit

b. Proses Kegiatan :

Pelatih membuka acara dan membagi peserta dalam beberapa kelompok Pelatih membagikan beberapa kasus pada masing-masing kelompok untuk diselesaikan.Pelatih memberikan waktu selama 15 menit kepada masing-masing kelompok untuk  menyelesaikan kasus yang diberikan.Setelah semua selesai, pelatih memberikan kesempatan selama 10 menit pada masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Pelatih menjelaskan hasil dari diskusi kedalam materi pokok bahasan.

Pelatih memandu dialog.

Pelatih menutup sessi.

10. Manajemen Organisasi

a.    Pokok bahasan :

1.    Pengertian, fungsi dan manfaat manajemen

2.    Manajemen organisasi non profit

3.    Manajemen kepanitiaan

b.    Tujuan :

1.    Mengerti dan memahami fungsi, manfaat dan bentuk-bentuk manajemen

2.    Mengetahui bagaimana memilih dan menerapkan manajemen yang tepat

c.    Metode :

1.    Brainstorming

2.    Diskusi

3.    Ceramah dan dialog

d. Media :

1.    OHP

2.    Kertas plano

3.    Spidol

e.   Waktu :

Alokasi waktu 90 menit

f.     Proses kegiatan :

1. Pelatih membuka acara, kemudian menjelaskan secara singkat tentang materi yang akan dibahas sesuai dengan pokok bahasan.

2. Pelatih memperkenalkan nara sumber, selanjutnya pelatih mengadakan warming up (pemanasan) dengan cara memberikan pertanyaan seputar materi sesuai dengan pokok bahasan. Hal ini dilakukan untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta terhadap materi yang bersangkutan, sehingga nara sumber dapat mempertajam pemaparan materi sesuai dengan kadar pengetahuan peserta.

3. Pelatih mempersilahkan kepada nara sumber untuk memaparkan materi, dilanjutkan dengan dialog.

4. Pelatih mengulas secara garis besar pokok hasil dialog, selanjutnya pelatih mempersilahkan kepada nara sumber meninggalkan ruangan, kemudian diakhiri dengan penutup.

11. Komunikasi

a. Pokok bahasan :

Pengertian dan tujuan komunikasi

Unsur-unsur komunikasi

Bagaimana menciptakan komunikasi yang efektif

Komunikasi verbal dan non verbal

Etika komunikasi

b. Tujuan :

1. Mengerti dan memahami tujuan serta komponen-komponen komunikasi

2. Mengetahui dan bisa menerapkan bagaimana komunikasi yang baik dan produktif.

c. Metode :

1. Ceramah

2. Brainstorming

3. Diskusi

d. Media :

1. OHP

2. Kertas plano

3. Spidol

e. Waktu

Waktu 90 menit

f.   Proses Kegiatan

1. Pelatih menerangkan secara singkat tentang pokok bahasan materi yang dilanjutkan dengan memperkenalkan nara sumber kepada peserta.

2. Pelatih mengadakan brainstorming dengan cara menyampaikan beberapa pertanyaan yang terkait dengan pokok bahasan, hal ini ditujukan untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta pada materi tersebut sebelum pemateri menyampaikan materinya secara utuh. selanjutnya mempersilahkan kepada nara sumber untuk menyampaikan materi, dilanjutkan dengan dialog.

3. Pelatih mengulas garis besar hasil dialog dan mengarahkan kepada kesimpulan

4. Pelatih menutup acara.

12. Kepemimpinan

c.    Pokok bahasan :

1.    Macam-macam leadership

2.    Teori munculnya pemimpin di masyarakat

3.    Pola kepemimpinan efektif

4.    Tipologi kepemimpinan

b.    Tujuan :

1.    Peserta memahami karakteristik sosok dan citra diri seorang pemimpin

2.    Peserta memahami bagaimana peran dan tanggung jawab seorang pemimpin

c.    Metode :

1.    Permainan

2.    Penugasan

3.    Diskusi

d.    Media :

1.   OHP

2.   Kertas plano

3.   Spidol

e.   Waktu :

Alokasi waktu 90 menit

f.    Proses Kegiatan :

1.    Pelatih membuka acara kemudian membagi peserta dalam 4 kelompok

2.    Masing masing kelompok memerankan seorang pemimpin yang otoriter, demokratis, liberal, laizezfaire

3.    Setelah semua selesai, pelatih melontarkan beberapa pertanyaan mengenai materi pokok bahasan yang berhubungan dengan tugas yang telah diperankan

4.    Pelatih memaparkan hasil dari tanya jawab, permainan peran dan materi pokok bahasan.

5.    Pelatih menutup acara

13. Scientific Problem Solving (SPS)

g.    Pokok bahasan:

1.    Pengertian dan fungsi SPS

2.    Pengertian masalah dan langkah-langkah pemecahan masalah

3.    Konsep dasar pengambilan keputusan

4.    Praktek studi kasus

h.    Tujuan:

1.    Memahami pengertian  dan fungsi SPS

2.    Memahami apa itu masalah, cara menganalisa serta bagaimana langkah-langkah pemecahannya.

3.    Memahami konsep dasar pengambilan keputusan.

i.      Metode:

1.    Study kasus

2.    Curah pendapat

3.    Ceramah

j.     Media :

Kertas plano, spidol

k.   Waktu :

Alokasi waktu 90 menit

l.      Proses kegiatan :

1.   Pelatih membuka acara dan membagi peserta dalam 2 kelompok besar

2. Pelatih membagikan beberapa kasus pada masing-masing kelompok untuk diselesaikan.

3. Pelatih memberikan waktu selama 15 menit kepada masing-masing kelompok untuk  menyelesaikan kasus yang diberikan.

4. Setelah semua selesai, Pelatih memberikan kesempatan selama 10 menit pada masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya.

5. Pelatih menjelaskan hasil dari diskusi kedalam materi pokok bahasan.

6. Pelatih memberi kesempatan beberapa pertanyaan.

7. Pelatih menutup acara.

14. Kerjasama

m.   Pokok bahasan :

1.    Pengertian dan tujuan kerjasama

2.    Bentuk-bentuk kerjasama

3.    Etika kerjasama

n.    Tujuan :

1.    Memahami pengertian dan tujuan kerjasama

2.    Memahami bentuk-bentuk kerjasama serta etika kerjasama

o.    Metode :

1.    Permainan

2.    Dinamika kelompok

3.    Brainstorming

4.    Diskusi

5.    Simulasi

p.    Media :

1.    Kertas double folio

2.    Lem

3.    kertas plano

4.    spidol

q.    Waktu :

Alokasi waktu 90 menit

r.     Proses kegiatan :

1.    Pelatih membuka acara kemudian menerangkan prosesi permainan

2.    Pelatih membagi kelompok

3.    Setiap kelompok mendapat kertas double folio sebanyak jumlah peserta dalam kelompok itu.

4.    Dalam waktu 15 menit bahan yang telah diberikan harus dibentuk sesuai dengan keinginan kelompok

5.    Ketentuannya produk itu harus setinggi mungkin dan tidak boleh mempergunakan peralatan lain selain yang diberikan.

6.    Ketentuan berikutnya selama bekerja tidak ada yang boleh bicara tapi dapat berkomunikasi dengan gerak-gerik atau bahasa isyarat, mimik dan bunyi-bunyian.

7.    Amati cara kerja kelompok

8.    Pelatih mempersilahkan memulai kerja selama 15 menit

9.    Setelah 15 menit selesai, semua harus berhenti dan masing-masing kelompok meletakkan hasil karyanya ditengah ruangan.

10. Setiap peerta diberi kesempatan untuk memberikan reaksi atas produk-produk itu, mengungkapkan perasaan dan pendapat secara bergantian

11. Kemudian Pelatih meminta seluuh peserta membentuk lingkaran besar dengan mengadakan evaluasi

12. Pelatih menyimpulkan hasil permainan itu dalam pokok bahasan materi

13. Pelatih menutup acara.

Kembali !! PEDOMAN LAKMUD (sesi 2)

Lanjut !! PEDOMAN LAKMUD (sesi 4)

PEDOMAN LAKMUD (sesi 2)

5.  Ke-IPNU-an

a. Pokok Bahasan :

1. Tinjauan sosiologis dan strategis kelahiran IPNU

2. Peristiwa-peristiwa dan keputusan penting dari kongres ke kongres

3. Kebijakan-kebijakan strategis IPNU kedepan

4. Posisi dan peran IPNU dalam konteks kepelajaran dan konteks kemasyarakatan.

b.   Tujuan :

1.      Mengetahui kelahiran IPNU secara sosiologis dan strategis

2.      Mengetahui perjalanan IPNU dari kongres ke kongres dengan keputusan pentingnnya.

3.      Memahami kebijakan strategis IPNU ke depan

c. Metode :

1. Ceramah

2. Dialog

3. Brainstorming

d.    Media :

1. OHP

2. Kertas plano dan spidol

e. Waktu :

90 menit

f.     Proses Kegiatan

1. Pelatih membuka acara, kemudian menjelaskan secara singkat tentang materi yang akan dibahas sesuai dengan pokok bahasan.

2. Pelatih memperkenalkan nara sumber, selanjutnya pelatih mengadakan warming up (pemanasan) dengan cara memberikan pertanyaan seputar materi sesuai dengan pokok bahasan. Hal ini dilakukan untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta terhadap materi yang bersangkutan, sehingga nara sumber dapat mempertajam pemaparan materi sesuai dengan kadar pengetahuan peserta.

3. Pelatih mempersilahkan kepada nara sumber untuk memaparkan materi, dilanjutkan dengan dialog.

4. Pelatih mengulas secara garis besar pokok hasil dialog, selanjutnya pelatih mempersilahkan kepada nara sumber meninggalkan ruangan, kemudian diakhiri dengan penutup.

6. Ke-NU-an

a.    Pokok bahasan :

1. Pengertian mabadi' Khoiru ummah

2. Pengertian panca gerakan NU

3. Pengertian khittoh NU

4. Analisa NU dalam perkembangan/dinamika perjuangan

b.     Tujuan :

1.    Mengerti dan memahami mabadi’ khoiro ummah serta 5 gerakan NU

2.    Mengerti dan memahami khittoh NU serta bagaimana menerapkannya.

c. Metode :

1. Ceramah dan tanya jawab

2. Brainstorming

3. Diskusi

d.      Media :

1. OHP

2. Kertas planodan  spidol

e. Waktu :

90 menit

f.      Proses kegiatan :

1. Pelatih membuka acara kemudian memberikan  penjelasan singkat tentang pokok bahasan materi, selanjutnya pelatih mengadakan brainstorming sekitar pokok bahasan materi.

2. Pelatih membacakan biodata nara sumber, selanjutnya mempersilahkan narasumber  menyampaikan materi di lanjutkan dengan dialog.

3. Pelatih mengarahkan menuju kesimpulan, kemudian mempersilahka nara sumber meningalkan ruangan.

4. Selanjutnya membagi peserta dalam beberapan kelompok diskusi, kemudian dipersilahkan peserta untuk mendiskusikan beberapa pokok masalah yang diberikan oleh pelatih.

5. Hasil diskusi dipresentasikan di depan forum dipandu pelatih.

6.    Kemudian pelatih mengulas garis besar hasil diskusi yang diakhiri dengan penutup.

7.  ASWAJA

a. Pokok bahasan :

1. Pengertian madzhab dan sistem bermadzhab

2.  Pengertian Taqlid, Ittiba', Ijtihad dan istinbath dalam NU.

3.  Memahami karakteristik 4 madzhab pada masalah fiqih

4.  Pandangan aswaja terhadap jihad

b. Tujuan :

1. Memahami pengertian madzhab dan sistem bermadzhab

2. Memahami tentang taqlid, ittiba’, ijtihad dan istinbath dalam NU serta aplikasinya dalam kehidupan

c.        Metode :

1. Ceramah dan tanya jawab

2. Brainstorming

3. Diskusi

d. Media :

1. OHP

2. Kertas plano dan spidol

e.    Waktu :

Alokasi waktu 90 menit

f.     Proses kegiatan :

1. Pelatih membuka acara kemudian memberikan  penjelasan singkat tentang pokok bahasan materi, selanjutnya pelatih mengadakan brainstorming sekitar pokok bahasan materi.

2. Pelatih membacakan biodata nara sumber, selanjutnya mempersilahkan narasumber  menyampaikan materi di lanjutkan dengan dialog.

3. Pelatih mengarahkan menuju kesimpulan, kemudian mempersilahka nara sumber meningalkan ruangan.

4. Selanjutnya membagi peserta dalam beberapan kelompok diskusi, kemudian dipersilahkan peserta untuk mendiskusikan beberapa pokok masalah yang diberikan oleh pelatih.

5. Hasil diskusi dipresentasikan di depan forum dipandu pelatih.

6.   Kemudian pelatih mengulas garis besar hasil diskusi yang diakhiri dengan penutup

8. Tradisi Perilaku Keagamaan NU

a.             Pokok bahasan :

1. Tradisi NU, pengertian dan dasar hukumnya  (tahlil, qunut, diba'iyah, ziarah kubur, haul, tarawih 20  rakaat, adzan 2 dlm jumat, talqin dll)

2. Fadzilah dan penerapannya

3. Khilafiyahnya

b.   Tujuan :

Mengerti dan memahami tradisi NU serta dasar hukumnya berikut fadzilah dan penerapannya

c.    Metode :

1. Ceramah

2. Dialog

d. Media :

1. OHP

2. Kertas plano dan spidol

e.   Waktu :

Alokasi waktu 90 menit

f.    Proses kegiatan :

1. Pelatih membuka acara, kemudian menjelaskan secara singkat tentang materi yang akan dibahas sesuai dengan pokok bahasan.

2. Pelatih memperkenalkan nara sumber, selanjutnya pelatih mengadakan warming up (pemanasan) dengan cara memberikan pertanyaan seputar materi sesuai dengan pokok bahasan. Hal ini dilakukan untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta terhadap materi yang bersangkutan, sehingga nara sumber dapat mempertajam pemaparan materi sesuai dengan kadar pengetahuan peserta.

3. Pelatih mempersilahkan kepada nara sumber untuk memaparkan materi, dilanjutkan dengan dialog.

4. Pelatih mengulas secara garis besar pokok hasil dialog, selanjutnya pelatih mempersilahkan kepada nara sumber meninggalkan ruangan, kemudian diakhiri dengan penutup.

Kembali !! PEDOMAN LAKMUD (sesi 1)

Lanjut !! PEDOMAN LAKMUD (sesi 3)

PEDOMAN LAKMUD (sesi 1)

Assalammualaikum Wr.Wb.

1.   Perkenalan

a.    Pokok bahasan :

Perkenalan identitas peserta dan pelatih, seperti  nama, alamat, status, hobbi dll.

b.    Tujuan :

1.  Tercapainya suasanan interaksi yang hangat, akrab dan saling terbuka diantara sesama peserta dan antara peserta dan Pelatih, sehingga memungkinkan berlangsungnnya kegiatan pelatihan yang partisipatif.

2.  Tercapainya suasana yang membantu peserta untuk saling membuka diri dan saling memahami, sehingga mempermudah proses interaksi antara sesama peserta pada acara-acara berikutnya.

c.    Metode :

Permainan kartu bergambar

d.   Media :

1.  Kertas manila

2.  Pulpen

3.  Kertas plano dan spidol

e.   Waktu :

120 menit

f.    Proses kegiatan :

1.   Peserta duduk melingkar tanpa ada yang menghalangi.

2.   Pelatih menerangkan maksud dari materi perkenalan ini, setelah itu membagikan kertas kepada setiap peserta.

3.   Setiap peserta menggambarkan dirinya dalam bentuk apapun (sketsa, lukisan, kata-kata, dll) kedalam kertas itu, misalnya nama, tempat tinggal, pekerjaan, orang-orang disekitarnya, hobi dsb. Gambar tidak harus bagus yang penting kita dapat mengetahui sesuatu tentang orang yang menggambarkannya.

4.     Setelah selesai, semua kertas dikumpulkan menjadi satu, masing-masing peserta mengambil satu kartu lalu dia harus menebak gambar itu milik siapa dan menceritakan apa yang dilihat dalam kartu tersebut.

5.    yang merasa membuat kartu tersebut dipersilahkan kedepan untuk menambah keterangan gambarnya.

6.    Peserta lain diharapkan mengajukan pertanyaan mengenai gambar tersebut. Begitu seterusnya sampai semua kartu peserta terbacakan.

7.    Pelatih melalui pertanyaan-pertanyaan intensif merangsang tiap peserta uantuk bercerita mengenai dirinya sendiri.

8.    Setelah selesai semua untuk perkenalan, pelatih menjelaskan arti permainan tadi kemudian menutup acara.

2.  Pre-test

a. Pokok bahasan :

1. Pengetahuan tentang organisasi IPNU, NU (Aswaja) serta organisasi pelajar yang lain.

2. Pengalaman organisasi :

q Pelatihan yang pernah diikuti

q Organisasi yang pernah diikuti

3. Keinginan diri:

q Tujuan dan harapan mengikuti Lakmud

q Tujuan dan harapan menjadi anggota IPNU

b. Tujuan :

1. Mengetahui sejauh mana pengetahuan dasar peserta tentang IPNU, NU serta organisasi pelajar yang lain.

2. Mengetahui  keinginan dan harapan peserta dalam mengikuti pelatihan ini

c. Metode :

1. Angket

2. Brainstorming

d. Media:

1. Kertas Manila (3 warna)

2. Kertas Plano

3. Spidol

e. Waktu:

Alokasi waktu 60 menit

f. Proses kegiatan :

1. Pelatih membagikan 3 kartu warna (merah,  kuning, hijau) yang telah terisi dengan beberapa pertanyaan kepada setiap peserta.

2. Pelatih memberikan waktu selama 15 menit untuk menyelesaikan  jawaban dimasing-masing kartu.

3. Setelah semua selesai, Pelatih meminta kepada peserta untuk mengumpulkan semua jawaban kedepan sesuai dengan warna kartu.

4. Pelatih mengidentifikasi kartu-kartu tersebut sesuai dengan kategorinya masing-masing.

5. Setelah teridentifikasi berdasarkan kategorinya, Pelatih memberikan kesempatan kepada peserta untuk menanggapi .

6. Kegiatan pada point 5 dan 6 dilakukan untuk 3 kertas warna, dimasing-masing kertas warna yang sama.

7. Pelatih menyimpulkan hasil dari kegiatan tersebut setelah itu menutup acara.

3.   Analisa Diri

a. Pokok bahasan :

Mengenal diri, atau akan keinginan diri, sadar akan kekurangan dan kelebihan diri dan orang lain serta sadar akan perlunya keterbukaan.

b. Tujuan :

Agar peserta dapat lebih rendah hati, setiap orang menghargai kekurangan dan kelebihan masing-masing, yang akhirnya menciptakan suasana terbuka diantara semua peserta.

c. Metode :

1. Role play

2. Brainstorming

d. Media :

1. Kertas plano dan spidol

2. OHP

e. Waktu :

Alokasi waktu 120 menit

f. Proses Kegiatan

a. Pelatih menjelaskan sekilas tentang esensi materi analisa diri.

b. Selanjutnya pelatih membuka dengan cerita atau contoh kasus seorang yang  mau mengenal diri sendiri dan tidak mengenal diri sendiri. Orang yang mampu mengenal diri sendiri terbuka untuk melihat kelemahan dan kekuatan diri sendiri maupun orang lain.

c. Hal ini terkait dengan keinginan kita dalam berproses di suatu organisasi. Oleh karena itu selanjutnya pelatih menanyakan kepada peserta apakah kita perlu mengenal diri kita sendiri.

d. Selanjutnya pelatih mengajak peserta untuk melakukan analisa diri dengan menggunakan “spiral pertumbuhan”.

e. Dalam penjelasan spiral pertumbuhan ini pelatih menjelaskan tahap demi tahap dengan disertai beberapa contoh kasus.

4. Kontrak Belajar

a.    Pokok bahasan

1.   Garis besar dan pokok-pokok materi latihan

2.   Kebutuhan serta harapan pribadi dan kelompok tentang pelatihan serta perangkat pelatihan

3.   Jadwal tentatif dan tata tertib latihan

b.     Tujuan

1.    Peserta mampu mengidentifikasi dan merumuskan kebutuhan terhadap materi latihan

2.    Peserta dan pelatih menetapkan kesepatakan bersama tata cara pelaksanaan latihan

c.      Metode

1.    Diskusi

2.    Brainstorming

d.     Media

Papan tulis white board

Spidol dan kertas plano

Flep card

e.      Waktu :

90 menit efektif

f.       Proses kegiatan

1.     Pelatih menjelaskan tentang tujuan dan target lakut secara singkat. Demi terlaksananya pelatihan yang partisipatif maka, partisipasi dan peran aktif seluruh peserta sangat dibutuhkan. Oleh karena itu kesepakatan pelatihan harus dibuat bersama-sama

2.     Pelatih membagi kartu kepada seluruh peserta, kemudian peserta menuliskan harapan dan kebutuhan selama proses pelatihan.

3.     Pelatih mengidentifikasi kartu-kartu peserta sesuai dengan kategorinya dengan cara menempelkan kartu tersebut di papan.

4.     Selanjutnya pelatih dan peserta membahas aturan main tentatif pelatihan

5.     Pelatih menutup acara

Lanjut !! PEDOMAN LAKMUD (sesi 2)

MARS IPNU

Wahai Pelajar Indonesia
Siapkanlah barisanmu
Bertekad bulat bersatu
Dibawah kibaran panji IPNU

Wahai Pelajar Islam yang setia
Kembangkanlah agamamu
Dalam negara indonesia
Tanah air yang kucinta

Dengan berpedoman kita belajar
Berjuang serta bertaqwa
Kita bina watak nusa dan bangsa
Tuk kejayaan masa depan

Bersatu wahai putra islam jaya
Kembangkanlah kwajiban yang mulia

Ayo maju… pantang mundur
Dengan rahmat tuhan kita perjuangkan
Ayo maju… pantang mundur
Pasti tercapai adil makmur

***

SEJARAH IPNU

Beberapa figure dari para pelaku sejarah yang telah berjuang bagi IPNU dalam kurun 54 tahun perjalanannya. Mungkin tidak terhitung banyaknya jumlah tokoh yang telah berperan dalam memberikan kontribusinya bagi IPNU. Namun, dalam edisi khusus ini hal tersebut tidak mungkin semuanya akan kami sajikan. Tapi, setidaknya agar bisa menjadi pesan tersendiri untuk bahwa sosok yang akan kami sajikan pada edisi ini merupakan figure-figure yang mungkin bisa menjadi wakil bagi sosok-sosok lainnya dalam setiap masa-masa kepengurusan.

M. Sufyan Cholil “Sang Pelopor”

Sosok M. Sufyan Cholil beserta kedua rekannya yakni H. Mustahal dan Abdul Ghoni Farida, merupakan sosok-sosok yang mempunyai peran sangat besar bagi proses kelahiran IPNU. Dari merekalah munculnya gagasan untuk menyatukan komunitas-komunitas pelajar NU yang pada saat itu masih terpisah-pisah dan menyebar di berbagai daerah di Indonesia.

Kegelisahan sosok-sosok tersebut, terkait dengan belum adanya satupun organisasi formal pelajar NU yang mampu menyatukan komunitas-komunitas pelajar NU di berbagai daerah. Merekalah yang memulai memberikan gagasan tentang perlunya sebuah organisasi bagi pelajar NU.

Dengan dimotori oleh M. Sufyan Cholil, ketiga Rekan tersebut kemudian membentuk semacam wadah untuk mempersatukan komunitas-komunitas pelajar NU, yang kemudian mereka ajukan gagasan tersebut kepada PP Maarif NU. Atas usulan ketiga Rekan tersebut PP Maarif kemudian menindaklanjutinya. Hal tersebut terbukti pada saat dilaksanakannya Konferensi Besar Maarif NU di Semarang. Permbahasan perlunya wadah baru bagi pelajar NU dalam Konbes di Semarang ini mendapat respon yang positif dari para peserta Konferensi Besar Maarif, yang kemudian pasca pembahasan tersebut secara aklamasi Konferensi Besar Maarif NU mengesahkan berdirinya wadah baru bagi pelajar NU di seluruh Indonesia dengan nama IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama).

Ismail Makky “Motor Organisasi”

Sosok Ismail Makky mungkin merupakan sosok yang bisa disebut sebagai motor penggerak utama bagi IPNU pada masa-masa awal berdirinya. Walaupun pada masa awal IPNU berdiri secara struktur Ismail Makky tidak menempati posisi yang strategis (Ketua Umum/BPH), namun dalam wilayah peran dan kontribusinya bagi perkembangan keorganisasian IPNU Ismail Makky mampu menunjukkan bahwa Beliau adalah sosok organisatoris yang ulung dan itu berlanjut pada saat beliau menjadi Ketua Umum hasil Muktamar IV IPNU di Yogyakarta.

Banyak hal-hal baru dalam keorganisasian IPNU yang muncul dari benak Beliau. Salah satunya yang mungkin terpenting adalah Beliaulah yang pertamakali memulai agenda Pekan Olahraga Nasional Pelajar (POR) yang diadakan oleh PP IPNU di Cirebon. POR merupakan ajang unjuk prestasi olahraga bagi para pelajar NU dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Di masa berikutnya POR diganti dengan Porseni dan selalu diadakan bersamaan dalam setiap Kongres IPNU.  Selain POR Ismail Makky juga yang mengawali lahirnya Departemen Perguruan Tinggi di tubuh IPNU. Bagi Ismail Makky adanya Departemen Perguruan Tinggi dalam tubuh IPNU merupakan suatu keharusan. Karena baginya apabila hal tersebut tidak dilakukan, maka dikhawatirkan potensi mahasiswa-mahasiswa NU yang selama ini belum terwadahi akan menyebar kemana-mana. Dari sinilah kemudian yang kelak akan menjadi embrio bagi lahirnya PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) sebagai wadah bagi mahasiswa-mahasiswa NU.

Asnawi Latief  “Kader Pejuang dan Pejuang Kader”

Asnawi Latief merupakan sosok Ketua IPNU yang mampu menganalisa zaman dengan cepat dan kemudian menungganginya. Pada masa kepemimpinan Asnawi Latief, kondisi perpolitikan Indonesia sedang berada pada posisi kritis, gerakan anti PKI yang meledak pasca Gestapu menjadi santapan media sehari-hari dan mengguncang dunia perpolitikan Indonesia. Hal inilah yang kemudian oleh Asnawi Latief dijadikan sebagai peluang untuk bisa semakin membesarkan dan mengeksiskan IPNU di kancah nasional.

Keterlibatan IPNU dalam organisasi KAPPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) yang turut menentang keberadaan PKI, menunjukkan bahwa Asnawi mampu menampilkan IPNU sebagai organisasi pelajar tingkat nasional yang selalu gandrung terhadap perubahan dan pembangunan. Di samping itu, pada masa Asnawi, IPNU untuk pertamakalinya membentuk CBP (Corp Brigade Pembangunan) sebagai antisipasi dari gerakan-gerakan politik PKI dan tentara, CBP kemudian menjadi trade mark bagi kepanduan IPNU.

Selain itu Asnawi bersama dengan rekan-rekan pengurus lainnya, berupaya untuk melahirkan suatu konsep baku tentang pengkaderan dalam tubuh IPNU. Hal tersebut kemudian melahirkan suatu buku panduan pengkaderan untuk pertamakalinya bagi IPNU dalam skala nasional.

Hilmy Muhammadiyah “Sang Pengayom”

Sosok Hilmy Muhammadiyah mungkin bisa disebut sebagai sosok pemimpin yang mampu mengakomodir semua aspirasi dan merawat jaringan. Melalui tangan dinginnya Hilmy mampu membawa IPNU melalui berbagai tahap perubahan secara sistematis. Dari mulai membangun sebuah tradisi baru dalam kepengurusannya, hingga melakukan perluasan jaringan di tingkatan eksternal IPNU.  Dengan menggunakan metode pengayoman dan perawatan kader Hilmy mampu membentuk sebuah kepengurusan yang solid. Dari sini kemudian Hilmy mampu memulai melakukan perubahan dalam tubuh IPNU secara sistematis. Salah satu hal terpenting dalam masa kepengurusan Hilmy
adalah dengan adanya perombakan system dalam tubuh CBP. Sebelum masa
kepengurusan Hilmy CBP telah lama mengalami kevacuuman dan disorientasi. Pada masa Hilmy inilah dilakukan upaya perombakan CBP dari mulai system pengkaderan hingga orientasi dari CBP itu sendiri.

Asrorun Niam Sholeh “Sang Pustaka IPNU”

Asrorun Niam Sholeh merupakan salah satu sosok yang sangat peduli dalam dunia pendokumentasian arsip IPNU. Melalui tangannya banyak sekali arsip-arsip lama IPNU yang berhasil diselamatkan. Pemberian kepercayaan pada masa kepengurusan Hilmy Muhammadiyah kepadanya, agar menangani berbagai program terutama yang berkaitan dengan dunia dokumentasi dan tulis menulis, membuat Niam semakin bersemangat untuk terus mengekspresikan potensinya dalam dunia tersebut.

Salah satu tinggalan Niam yang hingga sekarang masih tetap eksis adalah Majalah Lensa Remaja yang diterbitkan oleh PP IPNU. Selain itu banyak sekali karya-karya Niam tentang IPNU yang diterbitkan, salah satunya adalah buku sejarah IPNU yang berjudul Kaum Muda NU dalam Lintas Sejarah, yang ditulis bareng dengan Sulthan Fatoni.

DAFTAR PUSTAKA

Buku
1. Analisa Situasi Anak dan Wanita Indonesia, Jakarta, Pemerintah RI-Unicef, 1989.
2. Anam, Choirul, Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama, Surakarta, Jatayu, 1985.
3. Culla, Adi Suryadi, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Jakarta, Rajawali Pers, 1999.
4. Direktori Organisasi Pemuda Indonesia 1997, Jakarta, Kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, 1997.
5. Fachruddin, Achmad, Gus Dur dari Pesantren ke Istana Negara, Jakarta, Yayasan Gerakan Amaliah Siswa (GAS), 1999.
6. Gafur, Abdul, Kebijakan Nasional Kepemudaan di Indonesia, Jakarta, Kantor Menmud Urusan Pemuda Departemen P&K, 1982.
7. Habeahan, B.P., Sidang Istimewa MPR dan Semanggi Berdarah, Jakarta, Permata AD, 1999.
8. Haidar, Mohamad Ali, Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1994.
9. I. Hariyanto, Melangkah dari Reruntuhan Tragedi Situbondo, Jakarta, Grasindo, 1998.
10. Kurniadi, Eddy, Peranan Pemuda dalam Pembangunan Politik di Indonesia, Bandung, Angkasa, 1987.
11. Mansoer, M. Tolchah (et. al.) , Sedjarah Perdjuangan IPNU dari Masa ke Masa, Yogyakarta, Yayasan Lima Empat, 1966.
12. Natsir, Lies M. Marcoes, Johan Hendrik Meuleman, Wanita Islam Indonesia dalam Kajian Tekstual dan Kontekstual, Jakarta, INIS, 1993.
13. Partai Partai Politik Indonesia, Ideologi, Strategi, dan Program, Kompas, 1999.
14. Ridjal, Fauzi, Lusi Margiani, Agus Fahri Husein (ed.), Dinamika Gerakan Perempuan di Indonesia, Yogyakarta, Tiara Wacana, 1993.
15. Sejarah Muslimat Nahdlatul Ulama, Jakarta, PP Muslimat NU, 1979.
16. Setiawan, Hawe, Hanif Suranto, Istianto, Negeri dalam Kobaran Api, Jakarta, Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, 1999.
17. Sitompul, Einar Martahan, NU dan Pancasila, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1989.
18. Wright, Barbara Drygulski (ed.), Kiprah Wanita dalam Teknologi, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1997.

Koran/Majalah
1. Adil, No. 29 tahun 1997.
2. Bandung Pos, 13, 16 Juli 1996.
3. Berita Organisasi IPNU, No. 2/I/58; No. 7/I/58.
4. Duta Masjarakat, 2 Maret, 7 November 1956.
5. Jawa Pos, 24 Desember 1991; 30 Oktober 1997.
6. Kompas, 16 Juli 1996
7. Media Indonesia, 22 Desember 1997.
8. Pelita, 26 April, 22 Desember 1997.
9. Pikiran Rakyat, 12, 15, 16 Juli 1996
10. Republika, 13 Juli 1996
11. Risalah Organisasi IPNU, Th. I/Juni 1962.
12. Surabaya Post, 26 April 1997.
13. The Jakarta Post, 25 Desember 1997
14. Warta, No. 9/Th. I/Mei 1986; No. 1/th. IV/Maret 1988; No. 3/Th. IV/Mei 1988.

Dokumen/Arsip
1. Anggaran Dasar NU, Yogyakarta, Panitia Muktamar ke-28 NU, 1989.
2. Beberapa Hasil Keputusan Konbes IPNU-IPPNU 1990, Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1990.
3. Buku III: Peraturan Dasar dan Peraturan Ruumah Tangga IPNU dan IPPNU, Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1976.
4. Buku Panduan Mu’tamar Pertama IPNU, Yogyakarta, PP IPNU, 1955.
5. Buku Pedoman Pelatihan IPNU-IPPNU, Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1990.
6. Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia: Pikiran dan Gagasan, Jakarta, FKPI, 1997.
7. Hasil Lokakarya IPNU-IPPNU “Da’wah sebagai Media Pengembangan Kreativitas Kaum Remaja”, Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1978.
8. Hasil-Hasil Keputusan Kongres XI IPPNU, Jakarta, PP IPPNU, 1996.
9. Hasil-Hasil Munas Alim Ulama & Konbes NU, Setjen PBNU & LTN, 1998.
10. IPNU-IPPNU Jawa Timur dari Masa ke Masa, Surabaya, PW IPNU-IPPNU Jatim, 1982.
11. Jadwal Penataran Pers Nasional (A) dan Konperensi Besar (B) IPNU-IPPNU, Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1979.
12. Keputusan Kongres IPNU-IPPNU ’70 dan Hasil-Hasil Porseni, Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1970. Dalam himpunan keputusan ini termuat Doktrin Pekalongan, Ikrar Bersama untuk tidak akan mengubah nama Ikatan Pelajar NU selama-lamanya, dan Ikrar Wakil-Wakil Pondok Pesantren dalam Forum Kongres IPNU-IPPNU ’70 di Semarang tentang IPNU sebagai satu-satunya wadah kegiatan pelajar NU.
13. Keputusan-Keputusan Kongres IPNU IX – IPPNU VIII, Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1981.
14. Keputusan-Keputusan Kongres IPPNU IX – IPPNU VIII, Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1981.
15. Keputusan-Keputusan Kongres X IPNU & XI IPPNU, Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1988.
16. Keputusan-Keputusan Kongres X IPPNU, Jakarta, PP IPPNU, 1988.
17. Kerangka Acuan Kongres XI IPPNU, Jakarta, PP IPPNU, 1996.
18. Konperensi Besar Ikatan Peladjar Puteri Nahdlatul Ulama seluruh Indonesia 1956, Solo, Panitia Konbes IPPNU, 1956.
19. Konperensi Besar V IPNU dan II IPPNU se Indonesia, Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1968. Dalam keputusan ini dilampirkan laporan H.A. Murtadlo tentang Masalah KAPPI dan IPNU-IPPNU dan Nota Mosi Tidak Percaya yang ditandatangani Asnawi Latief.
20. Konperensi Keputusan Besar V IPNU dan II IPPNU se-Indonesia, Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1968.
21. Kumpulan Keputusan Kongres ’76, Lokakarya ’78, Konbes ’79, Suarabaya, Panitia Konperensi Wilayah IPNU-IPPNU Jawa Timur, 1979.
22. Laporan Pertanggungan Jawab PP IPPNU Periode 1977(1981, Jakarta, PP IPPNU, 1981.
23. Laporan Pertanggungjawaban PP IPNU periode 1991(1996, Jakarta, PP IPNU, 1996.
24. Laporan Pertanggungjawaban PP IPPNU periode 1992(1996, Jakarta, PP IPNU, 1996.
25. Laporan PP IPNU Periode 1966(1969, Jakarta, PP IPNU, 1970.
26. Menyambut Deklarasi Partai Kebangkitan Bangsa, Jakarta, Panitia Deklarasi PKB, 1998.
27. Panduan Kongres XI IPPNU, Jakarta, PP IPPNU, 1996.
28. Panduan Kongres X-IX IPNU-IPPNU, Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1996.
29. Panduan Kongres XI-X IPNU-IPPNU, Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1996.
30. PBNU, Hasil-Hasil Muktamar ke-29 Nahdlatul Ulama, Jakarta, Lajnah Ta’lif wan Nasyr, 1996.
31. Pedoman Latihan Kader + Kepemimpinan IPNU-IPPNU serta Petunjuk Teknis Pelaksanaannya, Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1979.
32. Pedoman Pengkaderan dan Rekomendasi IPNU(IPPNU (Hasil Konbes IPNU(IPPNU), PP IPNU & PP IPPNU, 1998.
33. Pedoman Pengkaderan dan Rekomendasi IPNU-IPPNU (Hasil Konbes IPNU-IPPNU), Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1998.
34. Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Kearsipan IPNU & IPPNU di seluruh Indonesia, Jakarta, PP IPNU-IPPNU, 1986.
35. Politik Bunyi-Bunyian, Jakarta, PB PMII, 1999.
36. Proyek Proposal Lokakarya Penyempurnaan Pedoman Pelatihan Kader dan Latihan Kader Utama IPPNU, Jakarta, PP IPPNU, 1995.
37. Proyek Proposal Peningkatan Kualitas Motivator Penyuluhan AIDS di Kalangan Remaja, Jakarta, PP IPPNU, 1995.
38. Rekaman dan Keputusan Kongres IX IPNU – VIII IPPNU, Bangil, Arena, 1981.
39. Surat pemberitahuan hasil penelitian dari Ditjen Sospol Depdagri kepada PP IPNU No. 220/110 tanggal 31 Juli 1987.

Wawancara
Asnawi Latief, Nihayah Achmad Siddiq, Umroh M. Tolchah Mansoer, Machmudah Mawardi, Asiah Dawami, Farida Purnomo, Machsanah Asnawi, Ida Mawaddah Manshur, Misnar Ma’ruf, Machsushoh Tosari, Titin Wahiduddin, Ulfah Mashfufah, Safira Machrusah.

Oleh

Rizki Riyadu Topeq

TENTANG IPNU

A. Tinjauan Sosiologi
Ikatan Pelajara Nahdlatul ‘Ulama yang disingkat IPNU merupakan wadah berhimpun, wadah komunikasi, wadah aktualisasi dan wadah kaderisasi bagi generasi muda Nahdlatul Ulama. Dengan demikian semangat perjuanggya senantiasa dijiwai dan dilandasi semangat nahdliyin. Sebagai organisasu yang bernaung di bawah panji Nhdlatul Ulama, maka IPNU senantiasa berorientasi pada wawasan keterpelajaran. Hal ini diupayakan dalam usaha penggalian dan pembinaan sumber daya anggota yang senantiasa mengamalkan kerja nyata demi tegaknya islam ahlussunah wal jama’ah dalam kehidupan masyarakat yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Agar peran yang diharapkan oleh masyarakat dapat terpenuhi, terlebih dahulu haruslah dimengerti kedudukan dan posisi IPNU dijajaran organisasi sejenis lainnya, yaitu organisasi social yang bersifat keagamaan.

B. Strategi berdirinya IPNU
IPNU lahir pada tanggal 20 Jumadil Akhir 1373 H/24 Februari 1954 M. Tujuan didirikan IPNU adalah untuk tegak dan berkembangnya ajaran islam, kesempurnaan pendidikan dan pengajaran serta ukhuwah pelajar ahlussunah wal jamaah. Ide dasar dibentuknya organisasi adalah untuk menyerap segmen pelajar, santri dan mahasiswa yang memang dalam NU pada saat itu segmen ini belum tersentuh.
Keinginan untuk membentuk organisasi ini sebenarnya telah tumbuh sebelum Indonesia merdeka. Di Surabaya misalnya Tsamrotul Mustaliqin (1936). Persatuan Santri NO (PERSANO) tahun 1939. Di Malang yaitu Persatuan Anak Moerid NO (PAMNO) tahun 1941 dan Ikatan Moerid NO (IMNO) tahun 1945. Di Kediri Persatuan Pelajar NO tahun 1953. IPENO di Medan dan lain-lain.
Lahirnya perkumpulan-perkumpulan pelajar pada masa revolusi merupakan bukti adanya semangat berorganisasi dan berjuang dikalangan generasi muda, walaupun antar kumpulan-kumpulan pelajar tersebut tidak saling kenal, tetapi antar organisasi tersebut memiliki kesamaan yaitu nilai-nilai kepelajaran dan faham ASWAJA.
Titik kesamaan itulah yang kemudian memberikan inspirasi untuk menyatu dan mengorganisir dalam satu ikatan yang kokoh dalam wadah nasional. Dan atas usaha dari Tohal Mansyur dalam forum Kongres Ma’arif NU di Semarang (24 Februari 1954) di sepakati berdirinya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan momen inilah yang kita peringati sebagai lahirnya IPNU.

C. Perjalanan IPNU dari Kongres ke Kongres
Kongres merupakan Forum permusyawaran tertinggi di IPNU tingkat Nasional untuk menilai pertanggung jawaban, penetapan program umum nasional menyempurnakan AD/ART, merumuskan kebijakan organisasi dan menetapkan keputusan-keputusan lain yang dibutuhkan.
è IPNU Pasca Kongres Jombang
Pada pemerintahan Orde Baru melalui UU no 8 tahun 1985 melakukan kebijakan Depolitasi Pelajar kebijakan yang mengatur organisasi kemasyarakatan. Diantaranya satu-satunya organisasi pelajar adalah OSIS. Dengan adanya kebijakan tersebut semua organisasi pelakar termasuk IPNU melenur menjadi OSIS. Akhirnya pada kongres tersebut menetapkan perubahan akronim dari Pelajar ke Putra sebagai perwujudan untuk mempertahankan eksistensi IPNU agar tetap eksis dalam dampak refresif orde baru.
Setelah Konres Jombang hingga Kongres Garut 1996 adalah masa transisi yang berkepanjangan. Satu missal adalah titik pernah sampainya pemahaman yang sama tentang orientasi bidang garap IPNU. Pada masa itulah terjadi tarik menarik antara kepentingan politik praktis (politik IPNU) dengan prioritas program. Hal ini berdampak pada proses pengkaderan yang pelan-pelan semakin hilang dari pesantren/sekolah maarif NU.
è Rekomendasi Dekalarasi Makasar 2000
Perkembangan IPNU selama 12 tahun terakhir perlu kita cermati walaupun pada pemuda (remaja) berhasil digarap, akan tetapi para pelajar dan santri sebagai elemen IPNU yang lain agak kurang tersentuh.
Pada Kongres XIII IPNU di Makasar mengamanatkan visi keterpelajaran yang tertuang dalam deklarasi Makassar. Deklarasi itulah yang di implementasikan dalam pendirian di Komisariat di lembaga-lembaga pendidikan dan pondok pesantren.
è Kongres XIV 2003 IPNU kembali Khittah
Deklarasi Makassar 2000 sebagai tonggak awal pengembalian IPNU. Pada Kongres XIV di Suarabaya memunculkan kesadaran bersama untuk merubah nama dari Putra kembali ke Pelajar dan misi kepelajaran sekaligus orientasi pengkaderan IPNU khusunya di pesantren dan sekolah-sekolah. Artinya Kongres telah mengembalikan IPNU pada garis perjuangan yang semestinya. Secara popular hal tersebut dikenal dengan nama khittah 1954.

D. Prospek dan Kiprah IPNU Pasca Kongres Surabaya
Perkembangan IPNU selama diakui atau tidak telah berhasil membawa IPNU sebagai organisasi kader dilingkungan NU dan disegani dalam peraturan organisasi kepemudaan. Tapi satu hal yang patut disayangkan, walaupun para pemuda (remaja) berhasil digarap, akan tetapi para pelajar, santri dan mahasiswa sebagai elemen IPNU lainnya agak kurang tersentuh oleh penggerak IPNU. Untuk itu pasca Kongres IPNU XIV di Surabaya dengan kembalinya IPNU ke Khittah 1954. IPNU harus bias menyikapi dengan perubahan tersebut. Dengan matangnya posisi IPNU, diharapkan akan membawa prospek yang semakin cerah dengan kata lain melalui IPNU para kader muda Nahdliyin dapat ikut mengisi derap langkah bangsa Indonesia dalam membangun Negara.

TentangIPNU : Waidin