Archive for the ‘ F. Dakwah Islam ’ Category

Arti Penamaan Bulan pada Kalender Hijriah

Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan Kalender Masehi yang menggunakan peredaran matahari.

Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah.

Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29 – 30 hari. Sesuai dengan firman Allah Subhana Wata’ala: ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS : At Taubah(9):36).

Sebelum era kerasulan Rasulullah Muhammad SAW orang arab telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa ?, tetapi tahun apa ?. Misalnya saja kita mengetahui bahwa Penyerangan Raja Abrahah ke Mekah adalah di tahun gajah.

Suatu ketika Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah).

Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw.

Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku di masa itu di bangsa Arab.

 

Orang Arab memberi nama bulan-bulan mereka dengan melihat keadaan alam dan masyarakat pada masa-masa tertentu sepanjang tahun. Misalnya bulan Ramadhan, dinamai demikian karena pada bulan Ramadhan waktu itu udara sangat panas seperti membakar kulit rasanya. Berikut adalah arti nama-nama bulan dalam Islam:

MUHARRAM, artinya: yang diharamkan atau yang menjadi pantangan. Penamaan Muharram, sebab pada bulan itu dilarang menumpahkan darah atau berperang. Larangan tesebut berlaku sampai masa awal Islam.

SHAFAR, artinya: kosong. Penamaan Shafar, karena pada bulan itu semua orang laki-laki Arab dahulu pergi meninggalkan rumah untuk merantau, berniaga dan berperang, sehingga pemukiman mereka kosong dari orang laki-laki.

RABI’ULAWAL, artinya: berasal dari kata rabi’ (menetap) dan awal (pertama). Maksudnya masa kembalinya kaum laki-laki yang telah meninqgalkan rumah atau merantau. Jadi awal menetapnya kaum laki-laki di rumah. Pada bulan ini banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam, antara lain: Nabi Muhammad saw lahir, diangkat menjadi Rasul, melakukan hijrah, dan wafat pada bulan ini juga.

RABIU’ULAKHIR, artinya: masa menetapnya kaum laki-laki untuk terakhir atau penghabisan.

JUMADILAWAL nama bulan kelima. Berasal dari kata jumadi (kering) dan awal (pertama). Penamaan Jumadil Awal, karena bulan ini merupakan awal musim kemarau, di mana mulai terjadi kekeringan.

JUMADILAKHIR, artinya: musim kemarau yang penghabisan.

RAJAB, artinya: mulia. Penamaan Rajab, karena bangsa Arab tempo dulu sangat memuliakan bulan ini, antara lain dengan melarang berperang.

SYA’BAN, artinya: berkelompok. Penamaan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan ini lazimnya berkelompok mencari nafkah. Peristiwa penting bagi umat Islam yang terjadi pada bulan ini adalah perpindahan kiblat dari Baitul Muqaddas ke Ka’bah (Baitullah).

RAMADHAN, artinya: sangat panas. Bulan Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang tersebut dalam Al-Quran, Satu bulan yang memiliki keutamaan, kesucian, dan aneka keistimewaan. Hal itu dikarenakan peristiwa-peristiwa peting seperti: Allah menurunkan ayat-ayat Al-Quran pertama kali, ada malam Lailatul Qadar, yakni malam yang sangat tinggi nilainya, karena para malaikat turun untuk memberkati orang-orang beriman yang sedang beribadah, bulan ini ditetapkan sebagai waktu ibadah puasa wajib, pada bulan ini kaurn muslimin dapat rnenaklukan kaum musyrik dalarn perang Badar Kubra dan pada bulan ini juga Nabi Muhammad saw berhasil mengambil alih kota Mekah dan mengakhiri penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaum musyrik.

SYAWWAL, artinya: kebahagiaan. Maksudnya kembalinya manusia ke dalam fitrah (kesucian) karena usai menunaikan ibadah puasa dan membayar zakat serta saling bermaaf-maafan. Itulah yang mernbahagiakan.

DZULQAIDAH, berasal dari kata dzul (pemilik) dan qa’dah (duduk). Penamaan Dzulqaidah, karena bulan itu merupakan waktu istirahat bagi kaum laki-laki Arab dahulu. Mereka menikmatmnya dengan duduk-duduk di rumah.

DZULHIJJAH artinya: yang menunaikan haji. Penamaan Dzulhijjah, sebab pada bulan ini umat Islam sejak Nabi Adam as. menunaikan ibadah haji.

Sumber: http://www.eramuslim.com

Iklan

Hati-Hati

Sebuah tulisan dari Jiran Malaysia, tentang siapa dan bagaimana seseorang yang mengaku sebagai ahli hadits dan membuatheboh ummat Islam seluruh dunia ini. Akhir-akhir ini segolongan sekte sedang gencar menambahi penyebutan hadits dengan kalimat

dan disahihkan oleh Al-Albani“.

Kalimat tersebut akhir-akhir ini menjadi sebuah syarat bagi sekte tertentu untuk menerima atau tidak suatu hadits, bahkan lebih dari itu, yakni untuk tidak mengakui hadits lain yang tidak berlabel seperti itu. Lebih gawat lagi para pengikutnya sangat fanatik dan aktif menuduh muslim lain sebagai ahli bid’ah karena menurutnya menggunakan hadits yang dianggapnya dloif atau bahkan palsu. Sementara dia bukanlah seorang ahli hadits seperti yang diklaim olehnya.

Akibatnya banyak sekali amal shalih yang dikerjakan kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia yang akhirnya dituduh sebagai bid’ah atau mengada-ada oleh sekte ini. Padahal para ahli hadits (yang telah diakui kepakarannya oleh para ulama) sudah meriwayatkan dan menshahihkan amalan tersebut. Tentu saja ujung-ujungnya adalah perselisihan tajam diantara ummat Islam sendiri, dan ini sangat disayangkan.

Mudah2an kita semua ummat Islam diselamatkan oleh Allah SWT dari hujjah2 orang yang justru memecah belah ummat Islam. Amin

Tawasul

S = Apa arti tawasul dengan walinya Allah?
J =  Tawasul dengan walinya Allah SWT artinya menjadikan para kekasih Allah sebagai perantara menuju kepada Allah SWT.dalam mencapai hajat, karena kedudukan dan kehormatan disisi Allah yang mereka miliki, disertai keyakinan bahwa mereka adalah hamba dan makhluk Allah SWT.yang dijadikan oleh-Nya sebagai lambing kebaikan, barokah, dan pembuka kunci rahmat. Pada hakekatnya, orang yang bertawasul itu tidak meminta hajatnya dikabulkan kecuali kepada Allah SWT dan tetap berkeyakinan bahwa Allah-lah yang maha memberi dan Maha Menolak. Bukan yang lain-Nya. Ia menuju kepada Allah SWT.dan orang-orang yang dicintai Allah SWT, karana mereka lebih dekat kepada-Nya, dan Dia menerima doa mereka dan syafaatnya karena kecintaan-Nya. Allah SWT,mencintai orang-orang yang baik dan orang-orang yang bertaqwa.
Dalam hadits qudsi disebutkan:
ولا يزال عبدي يتقرّب إليّ بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذى سمع به وبصره الذى يبصر به ويده التى يبطش بها ورجله الذى يمشى بها ولئن سألني لأعطيته ولئن استعاذني لأعيذنه
“Hambaku tidak henti-hentinya mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah, sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, maka Aku pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ia melihat dengannya, tangannya, dan penglihatanny yang ia melihat dengannya, kakinya yang ia berjalan dengannya. Apabila ia memohon kepada-Ku, maka aku berinya, dan jia meminta perlindungan, maka Aku berinya perlindungan.” (HR. Imam al-Bukhori).

Apa hukum tawasul dengan orang-orang yang dikasihi oleh Allah?
Tawasul dengan oramg-orang yang dicintai Allah, seperti nabi-nabi dan orang-orang yang shalih itu boleh, berdasarkan ijma’ ulama’ kaum muslimin. Bahkan ia merupakan cara orang-orang mukmin yang diridloi. Tawasul itu telah dikenal sejak zaman dahulu dan sekarang.

S= Bagaimana halnya dengan orang yang beranggapan bahwa tawasul itu adalah syirik dan kufur, serta pelakunya adalah musyrik dan kafir?
J= Tidak dapat diteladani orang yang nyleneh dan berpisah dari jama’ah yang beranggapan bahwa tawasul adalah perbuatan syirik atau haram, lalu menghukumi musyrik orang-orang yang bertawasul. Ini jelas tidak benar dan batil, sebab anggapan seperti ini akan menimbulkan penilaian, bahwa sebagian umat Islam telah membuat kesepakatan (ijma’) atas perkara yang haram atau kemusyrikan. Hal demikian adalah mustahil, karena umat Muhammad ini telah mendapat jaminan tidak bakal membuat kesepakatan atas perbuatan sesat, berdasarkan hadits-hadits Rasulullah SAW.seperti hadits:
سألت ربي أن لايجمع أمتي على ضلالة فأعطانيها
“Saya memohon kapada Tuhanku Allah, untuk tidak menghimpunkan umatku atas perkara sesat, dan Dia mengabulkan permohonanku itu.” (HR. Ahmad dan at-Thabrani).

لايجمع الله أمتي على ضلالة أبدا
“Allah tidak menghimpunkan umatku untuk bersepakat atas perkara sesat selama-lamanya.” (HR.Imam al-Hakim).
ما رآه المسلمون حسنا فهوعهند الله حسن
“Apa yang diyakini baik oleh orang-orng islam, mka menurut Allah juga baik.”

S= Apakah ada dalil al-qur’an tentang tawasul?
J = Ya, ada. Adapun ayat al-Qur’an yang meunjukkan dibolehkan tawasul adalah ayat:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS. Al-MAidah: 35)
Ini adalah permintaan dari Allah, agar kita mencar wasilah (perantara), yaitu segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai sebab untuk mendekatkan kepada-Nya dan sampai pada terpenuhinya hajat dari-Nya.

S= Apakah tawasul itu terbatas pada amal perbuatan saja, tidak pada benda (Dzat)?
J= Tidak, karena ayat Al-Qur’an tersebut umum (‘amm) meliputi amal-amal perbuatan baik dan orang-orang shalih, yakni dzat-dzat yang mulia, seperti NAbi SAW.dan wali-wali Allah yang bertaqwa.
Adapun orang yang berpendapat boleh tawasul dengan amal perbuatan saja, sedangkan tawasul dengan dzat-dzat tidak boleh, dan ia membatasi maksud ayat pada pengertian pertama (tawasl dengan amal perbuatan), maka pendapat ini tidak berdsar, sebab ayat tersebut adalah mutlak. Bahkan membawa ayat kepada pengertian kedua (tawasul dengan dzat) itu lebih mendekati, sebab Allah dalam ayat ini memerintahkan taqwa dan mencari wasilah, sedang arti taqwa adalah mengerjakan perintah dan menjauhi larangan. Apabila kata “Ibtighoul wasilah” (mencari wasilah) kita artikan dengan amal-amal sholeh, berarti perintah dalam mencari wasilah hanya sekedar pengulangan dan pengukuhan. Tetapi jika lafad “al-Wasilah” ditafsirkan dzat-dzat yang ulia, maka ia berarti yang asal, dan akna inilah yang lebih diutamakan dan lebih didahulukan. Disamping itu apabila tawasul itu boleh dengan amal-amal perbuatan baik, padahal amal-amal perbuatan merupakan sifat yang diciptakan, maka dzat-dzat yang diridloi oleh Allahlebih berhak dibolehkan, mengingat ketinggian tingkat ketaatan, keyakinan dan ma’rifat dzat-dzat itu kepada Allah SWT, allah SWT.berfirman:
(QS. An-Nisa’ : 64).
Ayat ini dengan jelas menerangkan dijadikannya RAsulullah sebagai wasilah kepada Allah SWT. Firman Allah “Jaa-uuka” (mereka dating kepadamu) dan “Wastaghfaro lahumurrosuulu” (dan Rasul memohokan ampun untuk mereka). Andaikata tidak demikian, maka apa kalimat “Jaa-uuka”.

S= Apakah tawasul itu dibolehkan secara umum, baik dengan orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati?
J= Ya, dibolehkan secara umum, karena ayat tersebut juga umum (’amm), ketika beliau masih hidup di dunia dan sesudah beliau wafat.
Telah dipastikan, bahwa para nabi dan para wali itu hidup dalam kubur mereka, dan arwah mereka di sisi Allah SWT. Barangsiapa tawasul dengan mereka dan menghadap kepada mereka, maka mereka menghadap kepada Allah dalam rangka tercapainya permintaannya. Dengan demikian, maka yang dimintai adalah Allah. Dia-lah yang berbuat dan yang mencipta, bukan lain-Nya. Sesunggguhnya kami golongan ahlussunnah wal jama’ah tidak meyakini adanya kekuasaan, penciptaan, manfaat, dan mudhorot kecuali milik Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Para Nabi dan para wali tidak memiliki kekuasaan apapun. Mereka hanya diambil berkah dan dimintai bantuan karena kedudukan mereka, sebab mereka adalah orang-orang yang dicintai Allah, karena merekalah Allah memberi rahmat kepada hamba-hamba-Nya. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara mereka yang masih hidup atau mereka yang sudah meninggal dunia. Yang kuasa berbuat dalam dua kondisi tersebut hakekatnya adalah Allah, bukan mereaka yang hidup atau yang mati.
Adapun orang-orang yang masih hidup dan orang-orang yang telah meninggal, sepertinya mereka itu berkeyakinan bahwa orang-orang yang masih hidup memiliki kemampuan memberi pengaruh kepada orang lain sedangkan orang yang telah meninggal tidak. Keyakinan seperti ini batil, sebab Allah-lah pencipta segala sesuatu.

S= Apa tawasul dengan orang-orang yang telah meninggal itu diperbolehkan?
J = Dalilnya sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS.An-Nisa’ :64).
Ayat diatas adalah umum (’amm) mencakup pengertian ketika beliau masih hidup dan ketika sesudah wafat dan berpindahnya kea lam barzah.
Imam ibnu Al-Qoyyim dalam kitab Zadul ma’ad menyebutkan:
عن أبي سعيد الخضريّ قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم ما خرج رجل من بيته إلى الصلاة فقال اللّهم إنّي أسألك بحقّ السائلين عليك وبحقّ ممساي هذا إليك فإني لم أخرج بطرا ولا أشرا  ولا رياءا ولا سمعة وإنما خرجت اتّقاء سخطك وابتغاء مرضاتك وأسألك أن تنقذني من النّار وأن تغفر لي ذنوبي فإنه لايغفر الذنوب إلاّ أنت إلاّ وكّل الله به سبعين ألف ملك يستغفرون له وأقبل الله عليه بوجهه حتّى يقضي صلاته.

“Dari Abu Sa’id al-Khudry, ia berkata, Rasulullah SAW.bersabda: “seseorang dari rumahnya hendak sholat dan membaca do’a:
اللّهم إنّي أسألك بحقّ السائلين عليك وبحقّ ممساي هذا إليك فإني لم أخرج بطرا ولا أشرا  ولا رياءا ولا سمعة وإنما خرجت اتّقاء سخطك وابتغاء مرضاتك وأسألك أن تنقذني من النّار وأن تغفر لي ذنوبي فإنه لايغفر الذنوب إلاّ أنت

Kecuali Allah menugaskan 70.000 malaikat agar memohokan ampun untk oran tersebut, dan Allah menatap orang itu hingga selesai sholat”. (HR. Ibnu Majjah).
Dari Imam al-Baihaqi, Ibnu As-Sunni dan al-Hafidz Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa do’a Rasulullah ketika hendak keluar menunaikan shalat adalah:
اللّهم إنّي أسألك بحقّ السائلين….إلخ
Para ulama; berkata, “ini adalah tawasul yang  jelasdengan semua hamba beriman yang hidup atau yang telah mati. Rasulullah mengajarkan kepada sahabat dan memerintahkan mebaca do’a ini. Dansemua orang salaf dan sekarang selalu berdo’a dengan do’a ini ketika hendak pegi sholat.”
Abu Nu’aimah dalam kitab al-Ma’rifah, at-Tabrani dan Ibnu Majjah mentakhrij hadits:
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال لمّا ماتت فاطمة بنت أسد أم علي بن ابي طالب رضي الله عنهما –وذكر الحديث- وفيه: أنه صلى الله عليه وسلم اضطجع في قبرها وقال: الله الذى يحي ويميت وهو حيّ لايموت اغفر لأمّي فاطمة بنت أسد ولقنها حجتها ووسّع مدخلها بحقّ نبيّك والأنبياء والمرسلين قبلي فإنك أرحم الراحمين

Dari Anas bin Malik ra, ia berkata, “ketika Fatimah binti Asad ibunda Ali bin Abi Thalib ra meninggal, maka sesunnguhnya Nabi SAW berbaring diatas kuburannya dan bersabda: “Allah adalah Dzat yang Menghidupkan dan mematikan. Dia adalah Maha Hidup, tidak mati. Ampunilah ibuku Fatimah binti Asad, ajarilah hujjah (jawaban) pertanyaan kubur dan lapangkanlah kuburannya dengan hak Nabi-Mu dan nabi-nabi serta para rasul sebelumku, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang.”
Maka hendaklah diperhatikan sabda beliau yang berbunyi:
بحقّ الأنبياء قبلي
“Dengan hak para nabi sebelumku”.

S= Jika tawasul dengan orang-orang yang telah mati itu boleh, mengapa kholifah Umar din al-Khottob tawasul dengn al-Abbas, tidak dengan NAbi SAW?
Para ulama’ telah menjelaskan hal ini juga, mereka berkata: “adapun tawasul Umar bin al-Khottob dengan al-Abbas ra bukanlah dalil larangan tawasul dengan orang yang telah meninggal dunia. Tawasul Umar bin al-Khottob dengan al-Abbas tidak dengan Nabi SAW itu untuk menjelaskan kepada orang-orang bahwa tawasul dengan selain itu boleh, tidak berdosa. Tentang mengapa dengan al-Abbas bukan dengan sahabat-sahabat lain, adalah untuk memperlihatkan kemuliaan ahli bait Rasulullah SAW.

S= Apa dalilnya?
J= Dalilnya adalah perbuatan para sahabat. Mereka selalu dan terbiasa bertawasul dengan rasulullah SAW setelah beliau wafat. Seperti yang diriwayatkan Imam al-Baihaqi dan Ibnu abi Syaibah dengan sanad yang shohih:
“Sesungguhnya orang-orang pada masa kholifah Umaar banal-Khottob ra tertimpa paceklik karena kekurangan hujan. Kemudian Bilal bin al-Harits ra dating ke kuburan Rasulullah SAW dan berkata: “Ya rasulullah, mintakanlah hujjah untuk umatmu karena mereka telah binasa.” Kemudian ketika Bilal tidur didatangi oleh Rasulullah SAW dan berkata: datanglah kepada Umar dan sampaikan salamku kepadanya dan beritahukan kepada mereka, bahwa mereka akan dituruni hujan. Bilal lalu dating kepada kholifah Umara dan menyampaikan berita tersebut. Umar menangis dan orang-orang dituruni hujan.”

S= Dimana letak penggunaan dalil hadits tersebut?
J= Letak penggunaan dalil dr hadits tersebut adalah perbuatan Bilal bin Al-Harits, seorang sahabat Nabi SAW yang tidak diprotes oleh kholifah Umar maupun sahabat-sahabat Nabi lainnya. Imam ad-DARimi juga mentakhrij sebuah hadits:
إن أهل المدينة قحطوا قحطا شديدا فشكوا إلى عائشة رضي الله عنها فقالت انظروا إلى قبر النبيّ صلى الله عليه وسلّم فاجعلوا منه كوى إلى السماء حتى يكون بيبه وبين السماء سقف ففعلوا فمطروا مطرا شديدا حتى نبت العشب وسمنت الإبل حتي تفتقن فيسمّى عام الفتقة
“Sesungguhnya penduduk Madinah mengalami paceklik yang amat parah, karena langka hujan. Mereka mengadu kepada Aisyah ra dan ia berkata: “lihatlah kamu semua ke kuburan Nabi SAW lalu buatlah lubang terbuka yang mengarah ke arah langit, sehingga antara kuburan beliau dan langit tidak ada atap yang menghalanginya. Meeka melaksanakan perintah Aisyah, kemudian mereka dituruni hujan yang sangat deras, hingga rumput-rumput tumbuh dan unta menjadi gemuk.”
Ringkasnya, tawasul itu dibolehkan, baik dengan amal perbuatan yang baik maupun dengan hamba-hamba Allah yang soleh, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Bahkan tawasul itu telah berlaku sebelum Nabi Muhammad diciptakan.

S= Apa dalil bahwa tawasul terjadi sebelum Nabi Muhammad SAW diciptakan?
J=  Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Umar bin al-Khottob:
“Ketika Nabi Adam terpeleset melakukan kesalahan, maka berkata, “Hai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu dengan haq Muhammad, Engkau pasti mengampuni kesalahanku. Allah berfirman: “Bagaimana kamu mengetahui Muhammad, padahal belum Aku ciptakan?” Nabi Adam berkata: “Hai Tuhanku, karena Engkau ketika menciptakanku dengan tangan kekuasaan-MU, aku mengangkat kepalaku kemudian aku melihat ke atas tiang-tiang arsy tertulis La ilaaha illa Allah. Kemudian aku mengerti, sesungguhnya Engkau tidak menyandarkan ke nama-MU, kecuali makhluk yang paling Engkau cintai.” Kemudian Allah berfirman: “benar engkau hai adam. Muhammad adalah makhluk yang paing Aku cintai. Apabila kamu memohon kepada-Ku dengan hak Muhammad, maka Aku mengampunimu, dan andaikata tidak karena Muhammad maka Aku tidak menciptakanmu.” (HR. al-Hakim, at-Thobroni dan al-Baihaqi).
Nabi Adam as adalah orang yang mula-mula tawasul dengan Nabi Muhammad SAW. Imam Malik telah memberi anjuran tawasul kepada kholifah al-Mansur, yaitu ketika ia ditanya oleh kholifah yang sedang berada di masjid Nabawi: Saya sebaiknya menghadap kiblat dan berdo’a atau menghadap Nabi SAW?” Imam Malik berkata kepada kholifah “mengapa engkau memalingkan wajahmu dari beliau, padahal beliau adalah wasilahmu dan wasilah bapakku Nabi Adam as.kepada Allah SWT. Menghadaplah kepada beliau dan mohonlah pertolongan dengannya, Allah akan memberinya pertolongan dalam apa yang engkau minta.” Allah befirman:
“Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS.An-Nisa’ :64).
Keterangan ini disebutkan oleh al-Qodli ‘Iyadl dalam kitab as-Syifa’.
S= Bagaimana cara tawasul?
J= Para ulama telah menerangkan, bahwa tawasul dengan dzat-dzat yang mulia, seperti Nabi SAW, para Nabi dan hamba-hamba Allah itu ada tiga macam, yaitu:
1. Memohon (berdoa) kepada Allah SWT.dengan meminta bantuan mereka. Contoh:
اللهم إني أسألك بنبيك محمد أو بحقه عليك أو أتوجّه به إليك في كذا….
“Ya Allah, saya memohon kepada-Mu melalui Nabi-Mu Muhammad atau dengan hak beliau atas Kamu atau supaya saya menghadap kepada-Mu dengan Nabi SAW untuk…”
2. Meminta kepada orang yang dijadikan wasilah agar ia memohon kepada Allah untuknya agar terpenuhi hajat-hajatnya seperti:
يا رسول الله، ادع الله تعالى أن يستقينا أو….
“Ya Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah SWT agar Dia menurunkan hujan atau……”
3. Meminta sesuatu yang dibutuhkan kepada orang yang dijadikan wsilah, dan meyakininya hanya sebagai sebab Allah memenuhi permintaannya karena pertolongan orang yng dijadikan wasilah dank arena doanya pula. Cara ketiga ini sebenarnya sama dengan cara kedua.
Tiga macam cara tawasul ini semua berdasarkan nash-nash yang shahih dan dalil-dalil yang jelas.

S= Apa dalil tawasul dengan cara yang pertama?
J= Dalil tawasul dengan cara yang pertama adalah hadits-hadits Nabi SAW antara lain:
“Dari autsman bin Hunaif ra.sesungguhnya seorang laki-laki tuna netra datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Ya Rasululah, berdo’alah kepada Allah agar menyembuhkan saya.” Beliau bersabda: “jika engkau mau, berdoalah. Dan jika engkau mau bersabarlah (dengan kebutaan) karena hal itu (sabar) lebih baik untuk kamu.” Laki-laki itu berkata: “berdo’alah untuk saya, karena mataku benar-benar benar-benar memberatkan (merepotkan)ku.” Kemudian Nabi SAW memerintahkan si laki-laki itu agar berwudlu, shalat dua rakaat, lalu berdoa seperti doa dalam hadits yang arti doa itu adalah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu Muhammad, nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad, sesungguhnya aku melalui kamu menghadap kepada Tuhanku dalam urusan hajatku ini, agar hajat itu dikabulkan kepadaku. Ya Allah, tolonglah beliau dalam urusanku.” Si laki-laki itu melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah SAW kemudian pulang dalam keadaan dapat melihat.”
Renungkanlah bagaimana Nabi SAW tidak berdoa sendiri untuk kesembuhan mata si tuna netra, tetapi beliau mengajarkan kepadanya cara berdoa dan menghadap kepada Allah melalui kedudukan diri beliau dan memohon kepada Allah agar meminta bantuan dengan beliau. Dalam hal ini, ada dalil yang jelas tentang kesunahan tawasul dan meminta bantuan dengan dzat Nabi Muhammad SAW. Ajaran tawasul dalam doa yang disebutkan pada hadits tersebut tidak khusus untuk laki-laki tuna netra itu saja, tetapi umum untuk umatnya seluruhnya, baik semasa beliau masih hidup atau sesudah wafat. Pemahaman rawi dalam menghadapi hadits itu dapat dijadikan hujjah sebagaimana diuraikan dalam ilmu ushul.

S= Apa dalil tawasul dengan cara kedua?
J= Dalilnya banyak, diantaranya:
”Dari Anas ra.ia berkata: Ketika Nabi SAW berkhutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba ada seorang laki-laki masuk dar pintu masjid dan langsung menghadap kepda Nabi SAW seraya berteriak: “Hai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalan telah putus, maka berdoalah kepada Allah supaya menghujani kami. Rasulullah SAW.lalu mengangkat tangan dan berdo’a” Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami tiga kali. Aanas berkata: “Demi Allah kami melihat awan di langit dan kami hari itu dituruni hujan begitu juga hari berikutnya. Kemudian si laki-laki itu atau orang lainnya dating dan berkata: “Ya Rasulullah rumah-rumah ambruk dan jalan-jalan terputus. “Kemudian Beliau berdoa: “ Allah, turunkanlah hujah disekitar kita bukan diatas kita,” kemudian awan terbelah dan kami keluar berjalan di bawah sinar matahari.
Di dalam hadits yang shahih ini ada petunjuk atau dalil, bahwa setiap orang disamping boleh berdoa (memohon) kepada Allah secara langsung, boleh juga boleh juga mengunakan perantara orang-orang yang dicintai Allah yang dijadikan oleh-Nya sebagai sebab terpenuhinya hajat hamba-hambanya. Disamping itu, karena manusia ketika melihat dirinya masih berlepotan dosa yang membuatnya jauh dari Allah yang tentu saja merasa layak ditolak permohonannya. Sebab itu, ia menghadap kepada Allah melaui orang-orang yang dicintai-Nya, ia memohon kepada Allah denga kedudukan dan kemuliaan para kekasih-Nya, agar Allah mengabulkan hajatnya karena hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya yang mereka itu tidak tahu apa-apa kecuali ta’at kepada-Nya.

S= Apa dalil tawasul yang ketiga?
J= Dalilnya banyak antara lain:
Dari Rabi’ah bin Malik al-Aslami ra.ia berkata Nabi SAW bersabda kepadaku: “Mintalah apa saja yang kamu inginkan.” Saya berkata: “Saya memohon kepada-Mu dapat bersama-Mu di surga.” Beliau bersabda: “Selain itu?” Saya berkata: “Hanya itu.” Kemudian beliau bersabda: “Bantulah saya untuk memenuhi keinginanmu dengan memperbanyak sujud.” (HR. Imam Muslim).

أن قتادة نعمان أصيب بسهم في عينه عند يوم أحد فسالت على خدّه فجاء إلى رسول الله وقال عيني يارسول الله فخيره بين الصبر وبين أن يدعو له فاختار الدعاء فردّها عليه السلام بيده الشريفة إلى موضعها فعادت كما كانت
Sesungguhnya Qotadah bin Nu’man pada waktu perang Uhud matanta terkena panah sampai keluar ke pipinya, lalu dating kepada Nabi SAW dan berkata: “mataku Ya Rasulullah.” Beliau memberinya pilihan antara sabar dengan sakit pada matanya itu dan beliau berdoa untuk kesembuhannya. Qotadah memilih agar Rasulullah menyembuhkannya melalui doa. Kemudian beliau mengembalikan mata Qotadah ke tempatnya semula dengan mata beliau yang mulia sehingga kembali normal seperti semula.”

Tahlil dan Dzikir Jamaah

S = Bagaimana hukumnya tahlil?
J = Mengapa hukumnya tahlil ditanyakan? Bukankah tahlil itu sighat masdar dari madzi hallala yang artinya baca Laa Ilaaha Illa Allah.
S = Bukan. Yang saya maksud adalah tahlil menurut istilah yang berlaku di kampung-kampung itu.
J = Tahlil menurut istilah yang berlakuk di kampung-kampung, kota-kota bahkan seluruh penjuru adalah berisi bacaan Laa Ilaaha Illa Allah,Subhaana Allah wa bi Hamdihi, Astaghfirullah al Adzim, sholawat, ayat-ayat al Quran, fatihah, Muawwidzatain dan sebagainya apakah juga masih ditanyakan hukumnya?
S= Tetapi apakah ada aturan berdzikir secara jamaah sebagaimana dilakukan jamaah NU?
J= Perhatikan Surat al Kahfi ayat 28 :
وَاصبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الذِيْنَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالغَدَاةِ وَالعَشِيِّ يُرِيْدُونَ وَجْهَهُ وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridlaan NYA; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka…

S=  Di samping ayat disebutkan diatas, diantara ayat yang biasa anda dan kyai NU pahami sebagai anjuran dzikir berjama’ah adalah
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. 3:191)

Ayat di atas, dianggap sebagai dalil yang membolehkan dzikir berjama’ah karena menggunakan sighat (konteks) jama’ (plural) yaitu yadzkuruna. Menurut kyai NU jama’ berarti banyak dan banyak artinya bersama-sama.
Pengambilan dalil semacam ini menurut saya adalah tidak benar, karena tidak setiap kalimat yang disampaikan dalam bentuk jama’ harus dipahami bahwa itu dilakukan dengan bersama-sama.
Syaikh Dr. Muhammad bin Abdur Rahman al-Khumayyis, penulis makalah “Adz-Dzikr al-Jama’i baina al-Ittiba’ wal ibtida’ (telah dibukukan dengan judul yang sama), menjelaskan bahwa sighat (konteks) jama’ dalam ayat di atas adalah sebagai anjuran yang bersifat umum dan menyeluruh kepada semua umat Islam untuk berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala tanpa kecuali, bukan anjuran untuk melakukan dzikir berjama’ah.
Selain itu jika sighat (konteks) jama’ dalam ayat tersebut dipahami sebagai anjuran untuk melakukan dzikir secara berjama’ah atau bersama-sama maka kita akan kebingungan dalam memahami kelanjutan ayat tersebut. Disebutkan bahwa dzikir itu dilakukan dengan cara berdiri (qiyaman), duduk (qu’udan) dan berbaring (’ala junubihim). Nah bagaimanakah praktek dzikir bersama-sama dengan cara berdiri, duduk dan berbaring itu? Apakah ada dzikir berjama’ah dengan cara seperti ini?
Permasalahan lainnya adalah bahwa ayat ini turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat berada di samping beliau. Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat memahami ayat tersebut sebagai perintah untuk dzikir bersama-sama satu suara?

J = Kalau anda menyatakan bahwa lafadz jama’ itu tidak selalu bersama-sama, maka bisakah anda menunjukkan bahwa lafadz jama’ itu tidak mungkin dimaknakan bersama-sama?  Bagaimanakah dengan kisah para sahabat yang berdoa bersama Rasul saw dengan melantunkan syair (Qasidah/Nasyidah) di saat menggali khandaq (parit) Rasul saw dan sahabat2 radhiyallhu ‘anhum bersenandung bersama sama dengan ucapan : “HAAMIIIM LAA YUNSHARUUN..”. lihat Kitab Sirah Ibn Hisyam Bab Ghazwat Khandaq. Perlu anda ketahui bahwa sirah Ibn Hisyam adalah buku sejarah yg pertama ada dari seluruh buku sejarah, yaitu buku sejarah tertua. Karena ia adalah Tabi’in.  Sehingga akurasi sumber datanya lebih valid. Begitu juga pada waktu para sahabat membangun saat membangun Masjidirrasul saw : mereka bersemangat sambil bersenandung : “Laa ‘Iesy illa ‘Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar wal Muhaajirah” setelah mendengar ini maka Rasul saw pun segera mengikuti ucapan mereka seraya bersenandung dengan semangat : “Laa ‘Iesy illa ‘Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar wal Muhajirah.. ” (Sirah Ibn Hisyam Bab Hijraturrasul saw- bina’ masjidissyarif hal 116) Ucapan ini pun merupakan doa Rasul saw demikian diriwayatkan dalam shahihain.

Mengenai makna berdiri (qiyaman), duduk (qu’udan) dan berbaring (’ala junubihim). Tidakkah anda pernah shalat berjamaah? Bukankah shalat juga melafalkan dzikir? Bukankah shalat itu bisa berdiri, duduk dan tidur miring?
Menafsiri ayat tersebut diatas Ibn Katsir mengutip hadits Nabi riwayat Bukhari

عن عِمْران بن حُصَين، رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “صَلِّ قائما، فإن لم تستطع فقاعدا، فإن لَم تستطع فَعَلَى جَنْبِكَ أي: لا يقطعون ذِكْره في جميع أحوالهم بسرائرهم وضمائرهم وألسنتهم
Jadi ayat tersebut diatas lebih dititikberatkan kepada bagaimana tata cara orang shalat, namun secara umum dapat juga diartikan dzikir secara lafdziy. Seseorang dapat berdzikir kepada Allah dengan segala tingkah sesuai kemampuannya. Kalau anda memaknakan bahwa dzikir berjamaah dengan tidur semua, duduk semua atau berdiri semua, manakah point yang menunjukkan itu? Bagaimana kalau dimaknakan bila dzikir itu dibaca berjamaah, kita dapat berdiri, duduk dan tiduran sesuai dengan kondisi kita?  Berdiri karena tidak lagi kebagian tempat, tiduran karena kondisi tubuhnya tidak memungkinkan.
Sahabat Rasul radhiyallahu’anhum mengadakan shalat tarawih berjamaah, dan Rasul saw justru malah menghindarinya, mestinya andapun shalat tarawih sendiri sendiri, kalau toh Rasul saw melakukannya lalu menghindarinya, lalu mengapa Generasi Pertama yg terang benderang dg keluhuran ini justru mengadakannya dengan berjamaah. Sebab mereka merasakan ada kelebihan dalam berjamaah, yaitu syiar,  mereka masih butuh syiar dibesarkan, apalagi kita dimasa ini.  Kalau anda tidak mau memaknakan kalimat jama’ dengan arti bersama-sama, dari makna apa anda shalat tarawih berjamaah? Berdasar hadits dan ayat al Quran yang mana?
Kita Ahlussunnah waljama ah berdoa, berdzikir, dengan sirran wa jahran, di dalam hati, dalam kesendirian, dan bersama sama.
Sebagaimana Hadist Qudsiy Allah swt berfirman :
إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ
”BILA IA (HAMBAKU) MENYEBUT NAMAKU DALAM DIRINYA, MAKA AKU MENGINGATNYA DALAM DIRIKU, BILA MEREKA MENYEBUT NAMAKAU DALAM KELOMPOK BESAR, MAKA AKUPUN MENYEBUT (membanggakan) NAMA MEREKA DALAM KELOMPOK YG LEBIH BESAR DAN LEBIH MULIA”. (HR Muslim).

Kita di Majelis Majelis menjaharkan lafadz doa dan munajat untuk menyaingi panggung panggung maksiat yg setiap malam menggelegar dengan dahsyatnya menghancurkan telinga, berpuluh ribu pemuda dan remaja MEMUJA manusia manusia pendosa dan mengelu elukan nama mereka.. menangis menjilati sepatu dan air seni mereka.., suara suara itu menggema pula di televise dirumah rumah muslimin, dimobil2, dan hampir disemua tempat,
Salahkah bila ada sekelompok pemuda mengelu-elukan nama Allah Yang Maha Tunggal?, menggemakan nama Allah?,
apakah Nama Allah sudah tak boleh dikumandangkan lagi dimuka bumi?

Mewakili banyak hadits tentang dzikir berjamaah ini, perhatikan dan camkanlah hadits ini

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ مَا يَقُولُ عِبَادِي قَالُوا يَقُولُونَ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي قَالَ فَيَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ قَالَ فَيَقُولُ وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا قَالَ يَقُولُ فَمَا يَسْأَلُونِي قَالَ يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً قَالَ فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ قَالَ يَقُولُونَ مِنْ النَّارِ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً قَالَ فَيَقُولُ فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ قَالَ يَقُولُ مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ قَالَ هُمْ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ   رواه البخارى
Sabda Rasulullah saw : “sungguh Allah memiliki malaikat yg beredar dimuka bumi mengikuti dan menghadiri majelis majelis dzikir, bila mereka menemukannya maka mereka berkumpul dan berdesakan hingga memenuhi antara hadirin hingga langit dunia, bila majelis selesai maka para malaikat itu berpencar dan kembali ke langit, dan Allah bertanya pada mereka dan Allah Maha Tahu : “darimana kalian?” mereka menjawab : kami datang dari hamba hamba Mu, mereka berdoa padamu, bertasbih padaMu, bertahlil padaMu, bertahmid pada Mu, bertakbir pada Mu, dan meminta kepada Mu,
Maka Allah bertanya : “Apa yg mereka minta?”, Malaikat berkata : mereka meminta sorga, Allah berkata : apakah mereka telah melihat sorgaku?, Malaikat menjawab : tidak, Allah berkata : “Bagaimana bila mereka melihatnya”. Malaikat berkata : mereka meminta perlindungan Mu, Allah berkata : “mereka meminta perlindungan dari apa?”, Malaikat berkata : “dari Api neraka”, Allah berkata : “apakah mereka telah melihat nerakaku?”, Malaikat menjawab tidak, Allah berkata : Bagaimana kalau mereka melihat neraka Ku. Malaikat berkata : mereka beristighfar pada Mu, Allah berkata : “sudah kuampuni mereka, sudah kuberi permintaan mereka, dan sudah kulindungi mereka dari apa apa yg mereka minta perlindungan darinya, malaikat berkata : “wahai Allah, diantara mereka ada si fulan hamba pendosa, ia hanya lewat lalu ikut duduk bersama mereka, Allah berkata : baginya pengampunanku, dan mereka (ahlu dzikir) adalah kaum yg tidak ada yg dihinakan siapa siapa yg duduk bersama mereka”

Berhati-hati menemukan “… dan disahihkan oleh …”

Sebuah tulisan dari Jiran Malaysia, tentang siapa dan bagaimana seseorang yang mengaku sebagai ahli hadits dan membuat heboh ummat Islam seluruh dunia ini. Akhir-akhir ini segolongan sekte sedang gencar menambahi penyebutan hadits dengan kalimat “dan disahihkan oleh Al-Albani“.Kalimat tersebut akhir-akhir ini menjadi sebuah syarat bagi sekte tertentu untuk menerima atau tidak suatu hadits, bahkan lebih dari itu, yakni untuk tidak mengakui hadits lain yang tidak berlabel seperti itu. Lebih gawat lagi para pengikutnya sangat fanatik dan aktif menuduh muslim lain sebagai ahli bid’ah karena menurutnya menggunakan hadits yang dianggapnya dloif atau bahkan palsu. Sementara dia bukanlah seorang ahli hadits seperti yang diklaim olehnya. Akibatnya banyak sekali amal shalih yang dikerjakan kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia yang akhirnya dituduh sebagai bid’ah atau mengada-ada oleh sekte ini. Padahal para ahli hadits (yang telah diakui kepakarannya oleh para ulama) sudah meriwayatkan dan menshahihkan amalan tersebut. Tentu saja ujung-ujungnya adalah perselisihan tajam diantara ummat Islam sendiri, dan ini sangat disayangkan. Mudah2an kita semua ummat Islam diselamatkan oleh Allah SWT dari hujjah2 orang yang justru memecah belah ummat Islam.

Sholat di Masjid atau lapangan

Shalat hari raya kok tidak di lapangan ? Agaknya pertanyaan sebaiknya shalat hari raya itu di masjid atau di lapangan ini selalu muncul menjelang lebaran, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Inspirasinya adalah dari hadits berikut:

وَعَنْ أَبِى هٌرِيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ أصَابَنَا مَطَرٌ فِى يَومِ عِيْدٍ فَصَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى مسْجِدٍ.

Dari Abu Hurairah, dia berkata: datang hujan pada kami sewaktu hari raya, maka Rasulullah shalat dengan kami di dalam Masjid.Artinya kalau turun hujan, maka shalat Id beliau dan para shahabat pindah ke dalam masjid. Pada akhirnya muncul beberapa pendapat yang lebih mengutamakan di masjid maupun di lapangan. Tapi coba kita lihat background ceritanya. Shalat hari raya itu sejak jaman dahulu hingga sekarang adalah shalat yang jumlah makmumnya pasti memegang rekor terbanyak selama setahun. Saat itu, orang yang tidak biasa shalatpun akan hadir ikut lebaran, sehingga jumlah jama’ah pasti akan meluber.Oleh karena itu pada umumnya masjid tidak akan muat, sehingga perhatian khatib dan suara imampun akan sulit mencapai seluruh hadirin. Sebab pada jaman dulu, masjid itu adalah sebuah lahan yang dikelilingi tembok dan tanpa atap (sebagaimana Masjidil Haram). Tanpa atap ? ya betul tanpa atap. Oleh karena itulah kalau hujan maka akan kehujanan. Lalu apa kaitannya dengan hadits di atas, bila hujan maka shalat id di dalam masjid ? Kaitannya adalah bila hujan maka jama’ah akan sedikit, dengan demikian mereka akan muat di dalam masjid.Jadi pindah ke dalam masjid itu bukan dalam rangka berteduh dari hujan, sebab sama saja shalat di luar maupun di dalam masjid, kalau hujan akan tetap sama-sama kehujanan. Tapi kepindahan itu karena kalau diadakan di dalam masjid akan jauh lebih efektif baik pelaksanaannya maupun pahalanya. Bukankah di dalam masjid kita bisa shalat tahiyatal masjid, sedangkan “tahiyatal lapangan” mana pernah ada. Apalagi iktikaf di lapangan jelas tidak sah. Sedangkan bila masuk masjid dan berniat iktikaf, maka stop watch pahala iktikaf akan langsung aktif, hingga orang tersebut keluar masjid.

Baiklah, sekarang kita bandingkan dengan kondisi masjid kita pada jaman ini yang ukurannya besar-besar dan megah. Tentu saja sangat efektif dan sangat nyaman, serta jelas pahala tahiyatal masjid dan iktikafnya. Jelas semua mata dan hati akan mampu melihat makna hadits di atas, bahwa shalat Id di masjid adalah kondisi asli perintah, sedangkan bilamana tidak muat sehingga tidak efektif, maka dipindah ke lapangan. Tapi selama masih muat, apalagi di masjid juga ada teras dan halaman yang luas dan speaker yang menggema, sehingga jama’ah bisa melihat dan mendengar imam dengan baik. Bahkan shalatpun tidak sampai ketinggalan gerakan, maka shalat Id jauh lebih utama ditunaikan di dalam masjid.

Oleh :

Agus Z.A.

http://blog.its.ac.id/aguszacsitsacid/2008/03/31/masjid-atau-lapangan/

Tuntunan Islam untuk Keluarga Jenazah

Di lingkungan Nahdliyin ketika seseorang meninggal biasanya para ahli warisnya sering mengadakan berbagai ritual. Mulai dari talqin sampai membaca quran untuk mayit. Orang yang tidak sepaham dengan NU menganggap amalan ini adalah bid’ah, padahal ini semua adalah sunah nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam. Amaliah tersebut adalah: talqin mayit setelah dikubur, membaca yasin bagi mayit, memberikan makan bagi yang ta’ziah, mengirimkan pahala bacaan quran, ziarah kubur dan tawasul.

1. Talqin mayit

لقنوا موتاكم لااله إلا الله (رواه مسلم)

“Talqinkanlah orang yang mati kalian (dengan) la ilaha illallah”. (HR Muslim)

Menurut Al-Muhib Ath-Thabari, Ibn Al-Himmam, Asy-Syaukani dan yang lainnya lafdz “موتاكم” dikhususkan bagi yang telah mati, dan digunakan untuk yang sakratul maut dalam bentuk majaz dengan syarat harus ada qorinahnya. Dan pada hadits ini tidak ada qorinah untuk majaznya. Maka talqin mayit pada hadits ini ditujukan untuk orang yang telah meninggal.

أخرج الحافظ سعيد بن منصور حديثا: (إذا سوي على الميت قبره وانصرف الناس عنه كانوا (أي الصحابة) يستحبون أن يقال للميت عند قبره: يا فلان قل لا اله إلا الله, أشهد أن لا اله إلا الله ثلاث مرات يا فلان قل ربي الله وديني الإسلام ونبيي محمد صلى الله عليه وسلم ثم ينصرف).

Al-Hafizh Sa’id ibn Mansur mengeluarkan hadits:

“Apabila kalian sudah memasukan mayit ke dalam kuburnya dan orang telah pergi dari situ, terbukti bahwa para Sahabat mensunatkan untuk mengatakan kepada mayit pada kuburnya: wahai Fulan ucapkanlah la ilaha illallah dan bersaksilah bahwa tiada Tuhan selain Allah tiga kali, wahai Fulan ucapkanlah Tuhanku Allah agamaku Islam Nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu para Sahabat meninggalkan kuburan tersebut.”

Asy-Syaukani mengatakan bahwa Al-Hafizh Ibn Hajar menyebutkan hadits ini di dalam kitab Talkhis dan tidak menomentarinya. (Talkhis al-Habir halaman 243 juz 5 dari Majmu An-Nawawi).

2. Membaca yasin

عن معقل بن يسار رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (يس قلب القران لا يقرؤها رجل يريد الله والدار الآخرة إلا غفر الله له, اقرؤوها على موتاكم). (رواه أحمد)

“Dari Ma’qil bin Yasar berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Bacakanlah yasin bagi yang telah meninggal diantara kalian)”. (HR Ahmad)

Yang dimaksud dengan “موتاكم” yaitu mayit dalam arti sebenarnya, bukan orang yang sekarat. Asy-Syaukani dan Al-Muhib Ath-Thabari berpendapat bahwa lafadz “موتاكم” pada hadits bermakna yang telah meninggal dan bukan majaz yang bermakna sekarat, karena tidak adanya qorinah yang menunjukan pada makna sekarat. (Nailul Awthar 3/25).

3. Memberi makan yang bertaziah

عن طاووس قال: (إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا ويستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام).

“Dari Thawus berkata: (Sesungguhnya yang meninggal akan dicoba (diuji) di dalam kuburnya selama tujuh hari, maka disunahkan untuk memberi makan (diniatkan shadaqah) dari para mayit pada hari-hari tersebut)”.

Al-Hafizh Ibn Hajar menyebutkan hadits ini di dalam kitab Al-Mathalib Al-‘Aliyah (1/199) dan berkata isnadnya kuat.

4. Mengirimkan pahala bacaan

Hadits tentang membaca yasin adalah dalil bahwa pahala bacaan sampai kepada mayit.

عن عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه قال لي أبي اللجلاج: (يا بني إذا مت فالحد لي لحدا, فإن وضعتني في لحدي فقل: بسم الله وعلى ملة رسول الله ثم سن التراب علي سنا, ثم اقرأ عند رأسي بفاتحة البقرة وخاتمتها, فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ذلك).

“Dari Abdurrahman bin Al-’Ala bin Al-Lajlaj dari ayahnya berkata: berkata padaku ayahku Al-Lajlaj: (Wahai anakku apabila aku mati maka buatkanlah untuku liang lahat, maka apabila kalian memasukan ke dalam liang lahatku maka bacalah bismillah wa ‘ala millati rasulillah lalu taburkanlah tanah kepadaku satu taburan, lalu bacakanlah dekat kepalaku awal Al-Baqarah dan akhir Al-Baqarah. Karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara demikian)”.

Hadits ini dikemukakan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (13613) dan oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid (4242) dan Rijalul Haditsnya terpercaya semua.

عن الإمام الأحمد قال: حدثنا ابن المغيرة حدثنا الصفوان قال: كانت المشيخة يقولون: إذا قرئت أي يس عند الميت خفف عنه بها.

“Dari Imam Ahmad berkata: Berbicar kepada kami Ibn Al-Mughirah, berbicara kepada kami Ash-Shafwan berkata: Terbukti bahwa para Masyaikhah (Ulama-ulama) berkata: Apabila Yasin dibacakan kepada mayit maka akan diringankan kepada mayit oleh karena surat Yasin”. (Tafsir Ibn Katsir 3/563, At-Talkhis 2/104).

قال الشافعي رحمه الله: ويستحب أن يقرأ عنده شيء من القران وإن ختموا القران عنده كان حسنا.

“Imam Syafi’i Rahimahullah berkata: dan disunatkan untuk membacakan kepada mayit sebagian dari Al-Quran dan apabila menamatkan Al-Quran kepada mayit maka itu lebih baik”. (Al-Majmu An-Nawawi 5/294, Riyadlush Shalihin 947).

5. Ziarah Kubur

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها).

“Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Dulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekerang berziarahlah kepada kubur). (HR Muslilm, An-Nasai, Hakim)

6. Tawasul

قال تعالى: ]يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة[(المائدة: 35).

“Allah Ta’ala bersabda: (Wahai orang-orang yang beriman bertqwalah kepada Allah dan mengharaplah kepada-Nya (dengan) wasilah (perantara))”. (QS Al-Maidah: 35).

عن عثمان بن حنيف رضي الله عنهك أن رجلا ضريرا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: ادع الله لي أن يعافني, فقال: (إن شئت صبرت وهو خير لك), قال: فادعه وفي رواية: ليس لي قائد وقد شق علي. فأمره أن يتوضأ فيحسن وضوءه ويدعو بهذا الدعاء: (اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد صلى الله عليه وسلم نبي الرحمة, يا محمد إني توجهت بك إلى ربي في قضاء حاجاتي لتقضى لي اللهم شفعه في). وزاد البيهقي: فقام وقد أبصر. وفي رواية: (اللهم شفعه في وشفعني في نفسي). (رواه أحمد)

“Dari Utsman bin Hanif RA: Suatu ketika datanglah seorang yang buta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: berdoalah kepada Allah untuku agar menyembuhkanku. Nabi bersabda: (Jikalau kamu mau bersabar maka itu lebih baik). Orang tersebut menjawab: Doakanlah! Diriwayat yang lain: Aku tidak mempunyai lagi kekuatan dan sudah sangat memberatkanku. Lalu Nabi menyuruhnya untuk berwudlu dan memperbagus wudlunya dan berdoa dengan doa ini: (Ya Allah sesungguhnya aku meminta dan menghadap kepada-Mu dengan (bertawasul) melalui nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang memberitakan kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu menuju Tuhanku dalam mengabulkan keinginanku (dan) untuk mengabulkan kepadaku. Ya Allah syafa’atilah dia didiriku”. Dalam riwayat Al-Baihaqi: maka dia langsung berdiri dan bisa melihat lagi. Dan diriwayat lain: “Ya Allah syafa’atilah dia didiriku syafa’atilah aku di dalam diriku”. (HR Ahmad)

Oleh :

Agus Z.A.

http://blog.its.ac.id/aguszacsitsacid/2009/09/10/tuntunan-islam-untuk-keluarga-jenazah/